Keadilan ekonomi dalam Alkitab bukan hanya menyangkut persoalan materi, tetapi merupakan cerminan dari karakter Allah yang adil, penuh belas kasih, dan setia. Umat Tuhan dipanggil untuk mencerminkan keadilan ini dalam kehidupan sosial dan ekonomi mereka, sehingga nama Tuhan dimuliakan melalui cara mereka memperlakukan sesama.
Definisi Keadilan Ekonomi secara Alkitabiah:
Keadilan ekonomi dalam perspektif Alkitab adalah suatu tatanan hidup sosial dan ekonomi di mana setiap orang diperlakukan dengan hormat sebagai ciptaan Allah yang berharga, menerima haknya secara layak, dan memiliki kesempatan untuk hidup dengan martabat sesuai kehendak Allah. Ini bukan berbicara tentang distribusi materi yang merata, tetapi mencerminkan karakter Allah yang adil, penuh belas kasih, dan setia.
Dalam Alkitab, keadilan ekonomi terwujud melalui:
- Perlindungan terhadap yang lemah (Imamat 19:9-10, Ulangan 24:14-15)
- Larangan terhadap penindasan dan eksploitasi (Amsal 22:22-23; Mikha 6:8)
- Panggilan untuk kemurahan hati dan kepekaan terhadap kebutuhan sesama (Yesaya 58:6-10; Lukas 3:11)
- Sistem hukum dan kebijakan sosial yang mengedepankan keadilan dan kasih (Ulangan 15:1-11; Imamat 25:8-17 – Tahun Yobel)
Dengan demikian, keadilan ekonomi bukan sekadar isu etika sosial, tetapi adalah panggilan rohani untuk mencerminkan Allah di tengah dunia melalui sikap adil, memberi, dan mengangkat martabat sesama. Saat umat Allah berlaku adil dalam urusan ekonomi, nama Tuhan dimuliakan dan kerajaan-Nya dinyatakan di bumi.
1. Keadilan sebagai Cerminan Karakter Allah yang Penuh Belas Kasih
Dalam Alkitab, keadilan (justice) bukan hanya prinsip etika sosial, tetapi pernyataan dari siapa Allah itu. Allah adalah adil, dan keadilan-Nya tidak pernah terpisah dari belas kasih (mercy). Artinya, ketika umat-Nya hidup dalam keadilan, mereka sedang mencerminkan karakter Allah yang sejati kepada dunia.
1. Allah adalah Adil dan Penuh Belas Kasih
Karakter Allah yang adil (tsedeq) dan penuh kasih (chesed) adalah dua sisi dari satu kesatuan. Keadilan Allah bukan keadilan kaku yang menghukum, melainkan keadilan yang membela, memulihkan, dan mengangkat martabat manusia, khususnya mereka yang tertindas dan tak berdaya.
- Mazmur 89:14 “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu.”
- Mazmur 103:6 “TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.”
- Keluaran 34:6 “TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.”
Kita melihat bahwa belas kasih bukan melemahkan keadilan, tetapi justru menjiwainya. Allah tidak membiarkan kejahatan menang, tetapi Ia juga menolong orang berdosa dengan belas kasih yang memulihkan.
2. Keadilan Ilahi Memihak kepada yang Lemah dan Tertindas
Keadilan Allah secara konsisten berpihak kepada mereka yang menderita ketidakadilan—yatim, janda, orang asing, dan miskin.
- Ulangan 10:18 “Sebab TUHAN, Allahmu… membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian.”
- Yesaya 1:17 “Belajarlah berbuat baik; usahakan keadilan, kendalikan orang kejam; belalah hak anak yatim, perjuangkan perkara janda-janda!”
Keadilan dalam pengertian ini bukan sekadar “memberi hak sesuai hukum,” tapi menegakkan kembali martabat mereka yang dilemahkan oleh sistem dosa.
3. Salib: Puncak Perpaduan Keadilan dan Belas Kasih Allah
Salib Kristus adalah titik tertinggi di mana keadilan dan belas kasih Allah bertemu. Hukuman atas dosa ditegakkan (keadilan), namun kasih karunia juga diberikan kepada orang berdosa (belas kasih).
- Roma 3:25-26 “…untuk menunjukkan keadilan-Nya… supaya nyata bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.”
Salib mengajarkan bahwa keadilan tanpa belas kasih adalah kejam, dan belas kasih tanpa keadilan adalah lemah. Di dalam Kristus, keduanya bertemu secara sempurna.
Implikasi:
Keadilan ekonomi bukan dimulai dari kebijakan, tapi dari hati yang mengenal belas kasih Allah.
- Keadilan Lahir dari Hati yang Diubahkan oleh Belas Kasih Allah
- 📖 Yehezkiel 36:26 “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu…”
- 📖 Matius 9:13 “…Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan…”
Keadilan ekonomi yang sejati berasal dari transformasi hati, bukan hanya dari reformasi sistem. Orang yang mengenal dan mengalami belas kasih Allah akan terdorong secara rohani dan moral untuk memperlakukan sesamanya dengan adil dan murah hati. Yesus menekankan bahwa belas kasihan lebih penting daripada ritual atau formalitas agama. Artinya, tindakan keadilan harus mengalir dari hati yang telah dipenuhi oleh kasih Allah.
2. Belas Kasih Allah Menjadi Dasar Sikap terhadap Sesama
- 📖 Ulangan 24:17-22 Tuhan memerintahkan Israel untuk tidak menindas orang asing, yatim, dan janda, serta meninggalkan sebagian hasil panen bagi mereka. Alasannya? “Ingatlah bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu dari sana.” (ayat 18)
Ketika umat Allah sadar bahwa segala yang mereka miliki berasal dari belas kasih Tuhan, maka mereka akan terdorong untuk berbagi dan tidak menindas. Keadilan ekonomi dalam Alkitab bukan sekadar kebijakan publik, melainkan hasil dari hati yang telah mengalami belas kasih Allah. Ketika umat Allah mengenal kasih dan pengampunan-Nya, mereka akan terdorong untuk memperlakukan sesama dengan adil, murah hati, dan penuh kasih. Inilah dasar spiritual dari keadilan ekonomi: hati yang dipenuhi belas kasih menghasilkan tindakan yang adil. Dengan kata lain, pengalaman akan belas kasih Allah harus diterjemahkan dalam tindakan sosial dan ekonomi yang adil.
2. Prinsip Kecukupan: Melawan Keserakahan, Mengutamakan Keseimbangan
Kalimat “Prinsip Kecukupan: Melawan Keserakahan, Mengutamakan Keseimbangan” menyuarakan nilai penting dalam ajaran Alkitab tentang bagaimana orang percaya seharusnya memandang harta, kebutuhan hidup, dan berkat dari Tuhan. Prinsip ini mengajarkan bahwa kita dipanggil untuk hidup dengan cukup—tidak kekurangan, tapi juga tidak dikuasai oleh keinginan yang tak terbatas.
1. Prinsip Kecukupan: Hidup dengan Apa yang Diperlukan, Bukan dengan Apa yang Diinginkan
Kecukupan berarti hidup dengan kesadaran bahwa kita tidak harus memiliki segalanya. Kita percaya bahwa Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan, bukan semua yang kita inginkan.
📖 1 Timotius 6:6-8 “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”
Ayat ini secara langsung menekankan prinsip kecukupan: hidup dalam ibadah dan rasa cukup adalah keuntungan besar. Ini adalah cara hidup yang menolak keserakahan.
2. Melawan Keserakahan: Akar dari Banyak Kejahatan
Keserakahan (greed) adalah keinginan yang tidak pernah puas—dan dalam Alkitab, itu bukan hanya dosa, tapi juga berhala.
- Lukas 12:15 “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.”
- Kolose 3:5 “… matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, … keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”
Keserakahan mengaburkan visi kita tentang Tuhan, menjadikan harta sebagai sumber keamanan, dan mendorong eksploitasi terhadap sesama. Prinsip kecukupan menolong kita untuk melawan sistem dunia yang mendorong akumulasi tanpa batas.
3. Mengutamakan Keseimbangan: Antara Menikmati Berkat dan Memberi kepada Sesama
Prinsip kecukupan bukan berarti hidup dalam kekurangan atau menolak kenikmatan hidup, tapi menjaga agar berkat Tuhan tidak menjauhkan hati kita dari Dia dan sesama.
📖 Amsal 30:8-9 “… jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan, biarkan aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Ayat ini mengungkapkan kerinduan akan hidup yang seimbang—tidak miskin hingga mencuri, tapi juga tidak kaya hingga melupakan Tuhan. Inilah kecukupan yang menjaga hati tetap dekat kepada Tuhan.
4. Kecukupan Mengarah pada Solidaritas Sosial
2 Korintus 8:13-15 “… bukanlah supaya orang lain senang dan kamu terbeban, tetapi supaya ada keseimbangan. … seperti ada tertulis: Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan.”
Orang yang hidup dalam kecukupan akan lebih mudah menjadi saluran berkat bagi sesama. Ia tidak tamak, dan memiliki ruang dalam hatinya untuk berbagi. Paulus mengajarkan bahwa dalam tubuh Kristus, prinsip keadilan ekonomi adalah keseimbangan dan solidaritas—bukan keseragaman, tapi saling melengkapi.
Implikasi: Prinsip Kecukupan adalah panggilan untuk:
- Hidup dalam rasa syukur dan kepercayaan bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita.
- Menolak keserakahan sebagai berhala yang memisahkan kita dari Tuhan dan sesama.
- Mengupayakan keseimbangan antara menikmati berkat dan menjadi berkat.
- Membangun solidaritas dan keseimbangan sosial dalam komunitas umat Tuhan.
➡️ Kecukupan bukanlah kemiskinan, tapi kebebasan dari ketamakan.
3. Kepemilikan Pribadi Disertai Tanggung Jawab Sosial
Dalam pandangan Alkitab, kepemilikan pribadi diakui sebagai bagian dari martabat manusia, tetapi tidak bersifat absolut. Semua kepemilikan pribadi bersumber dari Allah dan dipercayakan kepada manusia sebagai penatalayan—bukan pemilik utama. Oleh karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk menggunakan harta miliknya dengan tanggung jawab sosial, bukan hanya untuk kepentingan pribadi.
1. Alkitab Mengakui Kepemilikan Pribadi
Kepemilikan pribadi adalah bagian dari tata ciptaan Allah. Dalam Sepuluh Perintah Allah, larangan mencuri dan mengingini milik orang lain secara implisit menegaskan bahwa manusia berhak memiliki properti secara pribadi.
- Keluaran 20:15 “Jangan mencuri.”
- Keluaran 20:17 “Jangan mengingini rumah sesamamu…”
Ini menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi dihormati oleh Allah. Namun, Alkitab juga memperingatkan bahwa kepemilikan bukan untuk disalahgunakan secara egois.
2. Pemilik Sejati Segala Sesuatu adalah Allah
Semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah, dan kita bertanggung jawab atas penggunaannya. Kita hanyalah steward (penatalayan) yang diberi amanah untuk merawat dan memanfaatkan setiap anugerah yang telah dipercayakan kepada kita. Ia bisa berupa harta, waktu, atau bahkan talenta yang kita miliki. Tanggung jawab ini mengharuskan kita untuk berpikir bijak dan bijaksana dalam setiap keputusan yang kita ambil, serta menggunakan semua yang ada pada kita untuk kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga titipan ini, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan lingkungan dan masyarakat di sekitar kita.
- Mazmur 24:1 “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya…”
- 1 Tawarikh 29:11-12 “…segala yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Mu… dari pada-Mu-lah kekayaan dan kemuliaan…”
Karena itu, kepemilikan pribadi harus dipahami dalam kerangka penatalayanan, bukan kepemilikan mutlak.
3. Tanggung Jawab Sosial Menyatu dengan Kepemilikan
Orang percaya dipanggil untuk tidak hidup egois, tetapi menggunakan harta mereka demi kebaikan sesama, terutama yang membutuhkan.
- 1 Yohanes 3:17 “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”
- Imamat 19:9-10 “…janganlah kamu petik habis hasil ladangmu… tinggalkanlah itu bagi orang miskin dan bagi orang asing…”
Hukum Musa secara praktis memerintahkan agar hasil panen tidak digunakan seluruhnya untuk diri sendiri, melainkan disisihkan bagi mereka yang kekurangan, seperti anak-anak yatim, para janda, dan orang-orang yang tidak mampu.
4. Memberi sebagai Wujud Tanggung Jawab Sosial
Dalam Perjanjian Baru, jemaat mula-mula adalah contoh nyata bagaimana orang percaya memahami bahwa kepemilikan pribadi adalah sarana untuk melayani sesama.
📖 Kisah Para Rasul 4:32-35 “…tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama… kepada mereka masing-masing dibagikan menurut keperluannya.”
Perhatikan bahwa mereka masih memiliki harta, tetapi mereka tidak menganggap milik mereka hanya untuk mereka sendiri. Di sinilah tanggung jawab sosial ditegakkan secara nyata.
5. Peringatan terhadap Menumpuk Harta Tanpa Tujuan Sosial
Yesus dan para rasul memberi peringatan keras kepada mereka yang menggunakan harta secara egois tanpa memperhatikan tanggung jawab sosialnya.
- Lukas 12:16-21 – Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh: Ia menumpuk harta untuk dirinya sendiri dan berkata, “…bersenang-senanglah!” Tetapi Allah berkata: “Hai orang bodoh…”
- Yakobus 5:1-6 “Hai kamu orang kaya, menangislah dan merataplah… upah buruh yang menabur di ladangmu telah kamu tahan…”
Kepemilikan yang tidak dipakai untuk tujuan ilahi dan sosial justru menjadi kutuk dan kesaksian terhadap dosa manusia.
Implikasi:
Kepemilikan pribadi dalam Alkitab adalah hak yang diberikan oleh Allah, namun bukan untuk hidup egois, melainkan untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.
Kita dipanggil menjadi penatalayan yang bijak, yang:
- Menyadari bahwa segala milik kita berasal dari Tuhan.
- Menggunakan harta secara bertanggung jawab dan penuh belas kasih.
- Melayani sesama dan mendukung keadilan sosial melalui apa yang kita miliki.
4. Penolakan terhadap Ketidakadilan Struktural dan Penindasan Sistemik
Dalam Alkitab, keadilan bukan sekadar persoalan pribadi antara individu, tetapi juga menyangkut struktur sosial, hukum, ekonomi, dan politik yang bisa menindas kelompok tertentu. Oleh karena itu, umat Tuhan dipanggil bukan hanya untuk menjadi pribadi yang adil, tetapi juga untuk melawan sistem yang tidak adil.
Para nabi bersuara keras terhadap sistem yang merugikan orang miskin dan memperkaya segelintir orang:
- “Celakalah mereka yang membuat undang-undang palsu… yang merampas hak orang lemah.” (Yesaya 10:1–2)
- “Kamu menindas orang miskin… Aku benci dan tidak suka kepada perayaanmu… Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air.” (Amos 5:11–24)
1. Ketidakadilan dalam Alkitab: Lebih dari Sekadar Dosa Pribadi Ketidakadilan struktural terjadi ketika hukum, kebijakan, atau praktik sosial secara sistemik memihak kepada yang kuat dan menindas yang lemah. Ini adalah dosa kolektif dan sistemik yang sangat ditentang oleh Allah. 📖 Yesaya 10:1-2 "Celakalah mereka yang membuat undang-undang kelaliman, dan mereka yang menulis keputusan-keputusan yang menindas, untuk menggeser orang miskin dari pengadilan dan merebut hak orang sengsara di antara umat-Ku..." Ini menunjukkan bahwa sistem hukum bisa menjadi sarana ketidakadilan, dan Allah mengutuk hal itu. 📖 Amos 5:10-12 "...kamu memungut pajak gandum dari orang lemah... kamu menindas orang benar dan menerima suap; kamu menghalangi orang miskin mendapat keadilan di pengadilan." Kitab Amos penuh dengan kritik terhadap struktur ekonomi dan hukum yang menindas. Ini adalah seruan kenabian untuk menolak penindasan yang dilembagakan. 2. Penindasan Sistemik Berulang Sepanjang Sejarah Ketika suatu sistem dikuasai oleh kekuasaan tanpa kasih, maka ketidakadilan akan berkembang dalam bentuk: - Monopoli dan eksploitasi ekonomi. - Diskriminasi rasial, etnis, atau sosial. - Ketimpangan akses terhadap pendidikan, kesehatan, atau keadilan hukum. - Kekerasan terhadap orang miskin, perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan. 📖 Mazmur 82:2-4 “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Berikanlah keadilan kepada orang lemah dan anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang miskin!” Allah menegur pemimpin karena mereka tidak mengoreksi struktur yang menindas. 3. Yesus: Penolak Penindasan dan Pembela Orang Tertindas Yesus bukan hanya menyembuhkan pribadi satu per satu, tetapi juga menggugat struktur sosial dan keagamaan yang menindas. 📖 Lukas 4:18-19 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, ... untuk membebaskan orang-orang tertindas.” Ini adalah misi sosial Yesus yang melibatkan transformasi sistem, bukan hanya perubahan individu. Yesus menegur keras para pemimpin agama yang menggunakan hukum untuk menindas, bukannya menegakkan keadilan dan belas kasih (lihat Matius 23).
Implikasi:
Ketidakadilan struktural dan penindasan sistemik adalah dosa sosial yang harus ditolak oleh umat Allah. Kita dipanggil:
- Bukan hanya untuk bersikap adil secara pribadi.
- Tetapi juga untuk berjuang melawan sistem, kebijakan, atau budaya yang menindas.
- Menjadi wakil kasih dan keadilan Allah dalam dunia yang sering membenarkan ketimpangan demi keuntungan.
Menolak ketidakadilan bukan sikap politis, tetapi ketaatan kepada Allah yang adil dan penuh belas kasih.
5. Panggilan Gereja dan Orang Percaya untuk Mewujudkan Keadilan Ekonomi
Keadilan ekonomi bukan hanya agenda sosial atau politik—itu adalah panggilan rohani yang mengalir dari hati Allah yang adil dan penuh belas kasih. Gereja dan setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Allah dalam menciptakan tatanan sosial yang memuliakan Tuhan dan menghargai martabat semua manusia.
hati Allah yang adil dan penuh belas kasih. Gereja dan setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Allah dalam menciptakan tatanan sosial yang memuliakan Tuhan dan menghargai martabat semua manusia.
1. Keadilan Ekonomi adalah Ekspresi Kerajaan Allah di Dunia
Kerajaan Allah adalah realitas di mana kasih, keadilan, dan kebenaran Allah ditegakkan di bumi. Maka, ketika gereja memperjuangkan keadilan ekonomi, ia sedang menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah.
- Matius 6:10 “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
- Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran (justice), damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”
Mewujudkan keadilan ekonomi adalah bagian dari menjalankan kehendak Allah di bumi, bukan sekadar tindakan kemanusiaan.
2. Gereja sebagai Komunitas yang Menghidupi Keadilan
Gereja bukan hanya tempat ibadah, tapi komunitas alternatif yang hidup dengan nilai-nilai kerajaan Allah—termasuk dalam cara memperlakukan harta, orang miskin, dan kebutuhan sesama.
- Kisah Para Rasul 2:44-45 “…mereka selalu bersama-sama dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Dan mereka membagi-bagikan kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.”
- Yakobus 2:15-17 “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari… apakah gunanya itu?”
Gereja seharusnya menjadi ruang peragaan keadilan ekonomi, di mana tidak ada yang berkekurangan karena kasih dan kebaikan saling mengalir.
3. Orang Percaya sebagai Penatalayan Berkat Allah
- 1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai penatalayan yang baik dari kasih karunia Allah.”
- 2 Korintus 9:8-11 “…supaya kamu berkelimpahan dalam pelbagai kebajikan… kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah.”
Kekayaan, pekerjaan, dan sumber daya bukan semata untuk kepuasan pribadi, tetapi untuk melayani dan membangun sesama. Orang percaya dipanggil untuk menjadi penatalayan, bukan pemilik mutlak. Tanggung jawab sosial orang percaya mencakup menolong yang miskin, jujur dalam bisnis, memberi peluang kepada yang tertinggal, dan memperjuangkan sistem yang adil.
4. Mewujudkan Keadilan Lewat Praktik Ekonomi yang Etis dan Memberdayakan
📖 Imamat 19:13 “Janganlah engkau memeras sesamamu dan janganlah engkau merampas apa-apa daripadanya; upah seorang pekerja harian janganlah tinggal padamu semalam suntuk sampai pagi.”
Panggilan ini menyentuh cara umat Tuhan bekerja, berdagang, memimpin, dan mengelola sumber daya. Ini mencakup:
- Gaji yang adil dan layak (Ulangan 24:14-15)
- Menghindari eksploitasi (Yakobus 5:4)
- Memberi peluang kerja bagi yang terpinggirkan
- Menjalankan bisnis dengan integritas dan belas kasih
5. Berseru dan Bertindak Melawan Ketidakadilan Sosial dan Ekonomi
- Amsal 31:8-9 “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu… belalah hak orang yang tertindas dan miskin!”
- Yesaya 1:17 “Belajarlah berbuat baik, usahakan keadilan, kendalikan orang kejam, belalah hak anak yatim, perjuangkan perkara janda-janda!”
Selain memberi dan menolong, gereja juga dipanggil untuk menjadi suara profetik yang menyerukan pertobatan dan perubahan dalam struktur yang menindas. Keadilan ekonomi bukan hanya tindakan kasih pribadi, tapi juga komitmen kolektif untuk mengubah sistem agar mencerminkan kasih Allah.
6. Panggilan Gereja: Bersuara bagi yang Tidak Bisa Bersuara
- Amsal 31:8-9 “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang lemah! Bukalah mulutmu, hakimilah dengan adil, belalah hak orang yang tertindas dan miskin!”
- Zakharia 7:10 “Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan terhadap sesamamu dalam hatimu.”
Umat Tuhan dipanggil menjadi suara profetik di tengah dunia—membela mereka yang tidak bisa membela diri dan melawan sistem yang menindas, bahkan jika itu berarti berdiri berseberangan dengan arus kekuasaan.
✅ Kesimpulan:
Gereja dan setiap orang percaya dipanggil untuk:
- Menyatakan kerajaan Allah melalui keadilan ekonomi.
- Mewujudkan komunitas yang saling menolong dan tidak membiarkan anggota menderita kekurangan.
- Mengelola sumber daya sebagai penatalayan, bukan pemilik.
- Menjalankan pekerjaan dan bisnis dengan kasih, etika, dan integritas.
- Menjadi suara yang berseru melawan penindasan dan ketidakadilan.
Keadilan ekonomi bukan hanya pilihan sosial, tapi bagian dari ibadah dan kesaksian umat Allah di dunia.