TUJUH PARADIGMA KEPEMIMPINAN 2.0

“Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others.”

Jack Welch, the former CEO of General Electric

Apakah itu paradigma?

Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas. Paradigma dapat mempengaruhi cara kita melihat dunia sekitar dan bagaimana kita memproses informasi.

#1. PANGGILAN PEMIMPIN  = SERVANTHOOD

Lukas 22:25-26 Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. (26) Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

“The true leader serves. Serves people. Serves their best interests, and in so doing will not always be popular, may not always impress. But because true leaders are motivated by loving concern rather than a desire for personal glory, they are willing to pay the price.”

Eugene B. Habecker, Author

Apa yang menjadi ukuran keberhasilan kepemimpinan anda?

#2. KESEDERHANAAN PEMIMPIN  = MODELLING

1 Petrus 5:2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. (3)  Janganlahkamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.

Example is leadership.

Albert Schweitzer

Ibrani 13:7 Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.

#3. MODAL  PEMIMPIN  = INTEGRITY

Proverbs 11:3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.

(NIV): “The integrity of the upright guides them, but the unfaithful are destroyed by their duplicity.”

Integritas tidak ditentukan oleh situasi dan kondisi: 

Integrity is doing the right thing when no one is watching

Integritas dimulai dari hal-hal kecil.

“When your words and actions match, people know they can trust you.”

“Living a life of Integrity starts with making and keeping promises, until the whole human personality, the senses, the thinking, the feeling, and the intuition, are ultimately integrated and harmonized.“ 

– Stephen R. Covey.

“If you have integrity, nothing else matters. If you don’t have integrity, nothing else matters.”

Former U.S. Senator Alan K. Simpson

#4. KEKUATAN PEMIMPIN  = AUTHENTICITY

Seorang pemimpin yang otentik tidak mencari validasi dari orang lain, tetapi berakar pada nilai-nilai dan keyakinan mereka. Keyakinan dalam identitas diri ini memungkinkan mereka untuk memimpin dengan transparansi, membangun hubungan yang tulus, dan menciptakan lingkungan yang penuh kepercayaan dan rasa hormat.

Menjadi pemimpin yang otentik memang memerlukan citra diri yang kuat dan sehat. Ketika kita memiliki pemahaman yang baik tentang siapa diri kita, kekuatan kita, dan kelemahan kita, kita akan lebih nyaman dengan diri kita sendiri. Kesadaran diri ini memungkinkan kita untuk memimpin dengan integritas dan keotentikan, tanpa merasa perlu menyesuaikan diri dengan harapan orang lain atau berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita.

Dalam konteks kepemimpinan Kristen, citra diri yang sehat ini berakar pada pemahaman tentang identitas kita dalam Kristus—mengetahui bahwa kita dicintai, dihargai, dan diterima oleh Allah. Hal ini membebaskan kita dari kebutuhan untuk mencari persetujuan dari orang lain dan memungkinkan kita untuk memimpin dengan cara yang sesuai dengan panggilan dan tujuan kita.

Efe.2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

(NLT) For we are God’s masterpiece. He has created us anew in Christ Jesus, so we can do the good things he planned for us long ago.

#5. DISIPLIN PEMIMPIN  = SOLITUDE

Amsal 14:4 Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.

Sebagai pemimpin kita menerima tekanan dan juga “sampah-sampah” dari orang lain. Karena itu perlu memiliki kebiasaan untuk menjernihkan pikiran.

The Discipline of Solitude:

  • Kejernihan pikiran: Ini memberikan ruang untuk kontemplasi dan refleksi yang tenang, memungkinkan pemikiran dan pemahaman yang lebih dalam.
  • Kesehatan emosional: Kesendirian dapat membantu mengurangi stres, kecemasan,dan perasaan terbebani.
  • Kreativitas: Ini dapat memicu ide-ide baru dan mendorong kreativitas dengan menyediakan lingkungan yang damai untuk brainstorming dan pemecahan masalah.
  • Pertumbuhan spiritual: Bagi banyak orang,kesendirian adalah kesempatan untuk koneksi spiritual dan refleksi.
  • Pertumbuhan pribadi: Ini dapat mengarah pada penemuan diri dan pemahaman yang lebih baik tentang nilai dan tujuan seseorang.

#6. SUKACITA PEMIMPIN  = MULTIPLICATION

True Leaders don’t create followers. They create more leaders.

If you want to go fast you go alone; if you want to go far, you go together!

“The single biggest way to impact an organization is to focus on leadership development. There is almost no limit to the potential of an organization that recruits good people, raises them up as leaders and continually develops them.” – John C. Maxwell

“Alone we can do so little, together we can do so much.” – Helen Keller

“Alone we are strong, TOGETHER we are stronger.” – unknown

#7. TUJUAN PEMIMPIN  = FINISHING WELL

2 Timotius 4:7-8 “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (8)  Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan…”

Ibrani 13:7 “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.”

Mat.25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepada mu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.|  His lord said to him, ‘Well done, good and faithful servant … Enter into the joy of your lord. (NKJV)

Tinggalkan komentar