Maz.92:13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; (14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. (15) Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, (16) untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Maz.92:13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.
- (CEV) Good people will prosper like palm trees, and they will grow strong like the cedars of Lebanon.
Ayat ini tidak berbicara tentang pohon, tetapi tentang orang benar. Orang benar akan bertunas seperti pohon korma
- “Bertunas” dalam bahasa aslinya yifrach yang berasal dari kata pāraḥ yang berarti bertumbuh, berkembang, mengeluarkan kehidupan dari dalam.
- Pohon Korma adalah pohon yang berakar dalam, sehingga dapat terus berbuah meskipun di Tengah guun yang kering.
Orang benar akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.
- “Grow Strong” dalam bahasa aslinya yisgeh berasal dari kata sāgāh yang berarti menjadi besar, bertambah kuat, bertumbuh secara signifikan, menjadi kokoh dan stabil
- Pohon aras Libanon symbol kekokohan, ketahanan, umur panjang, dan dipakai sebagai bahan membangun bait Allah.
Maz.92:13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; (14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
- (ERV) They are planted in the house of the Lord. They grow strong there in the courtyards of our God.
Kuncinya bukan pada apa yang dilakukan tetapi di mana tertanam.
Pertumbuhan rohani tidak dimulai dari apa yang dilakukan, tetapi dari kehidupan yang tertanam di tempat yang benar.
Tertanam di Rumah Tuhan berbicara tentang komitmen pada gereja lokal dan kedalaman relasi dalam komunitas Rohani.
Komitmen: Seberapa banyak hati kita berikan pada rumah Tuhan
Maz.26:8 (TB)“TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam.”
- (NLT) I love your sanctuary, Lord, the place where your glorious presence dwells.
Gereja lebih dari tempat yang kita kunjungi atau ibadah yang kita nikmati, melainkan habitat di mana kita tertanam, bertumbuh dan berbuah.
“The more deeply you are planted, the more you grow and become fruitful.”
Input shapes output. The input we receive in our local church shapes our beliefs, mindset, and worldview.
Input menentukan output. Pengajaran yang kita terima di gereja lokal membentuk apa yang kita percaya, pola pikir, dan cara pandang hidup kita.
- Ternaman juga berarti BERAKAR. Fungsi akar adalah menyerap makanan.
- Mengapa banyak orang Kristen tidak bertumbuh? Karena kita memperlakukan kebaktian sebagai kewajiban, kebiasaan atau hiburan, bukan kesempatan untuk belajar, bertumbuh dan diubahkan.
- BERAKAR artinya membangun kehidupan berdsarkan KEBENARAN, PRINSIP DAN NILAI-NILAI yang diajarkan di gereja lokal kita.
Rom.12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
- (NLT) let God transform you into a new person by changing the way you think.
- (ERV) let God change you inside with a new way of thinking.
Input Shapes Output
- Belief — keyakinan tentang apa yang benar.
Menentukan nilai yang kita pegang, identitas yang kita hidupi, dan keputusan yang kita ambil. - Mindset — cara kita berpiki, jembatan antara apa yang kita percaya dan bagaimana kita hidup.
Menentukan sikap hati, respons terhadap tantangan, dan cara kita menjalani kehidupan sehari-hari. - Worldview — cara kita memandang realitas dan dunia, lensa besar yang membentuk semua keputusan hidup.
Menentukan arah hidup, makna penderitaan dan keberhasilan, serta tujuan jangka panjang hidup kita.
Pada akhirnya, hidup kita tidak digerakkan oleh apa yang kita tahu, melainkan oleh apa yang sungguh-sungguh kita percaya.
We live in a noisy world—so we have to choose which voices we let shape our lives.
Your local church isn’t just a place you attend—it’s the COMMUNITY that shapes your values, character, and habits.
Ams.13:20 Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
- (ERV) Be friends with those who are wise, and you will become wise.
Ams.27:17 (BIS) Sebagaimana baja mengasah baja, begitu pula manusia belajar dari sesamanya.
- (FAYH) Sama seperti besi menajamkan besi, demikian pula orang saling menajamkan pikiran dalam pembicaraan yang akrab.
Choose the right community. Who you walk with influences what you value, who you become, and how you live.
Show me your friends, and I’ll show you your future.
We live in a busy but lonely world, but you don’t have to do life alone — God never designed us that way.
iCare exists as a healthy community—a second family where we belong, love each other, grow together, and serve one another.
Two churches may look the same on the surface, but have very different cultures.
Why does that matter? Because culture shapes your habits and your lifestyle.
Seiring waktu, sering kali tanpa kita sadari, kita mulai mencerminkan lingkungan tempat kita tertanam—cara orang berbicara, melayani, berpakaian, merespons tekanan, memperlakukan keluarga, menggunakan waktu, dan memuliakan Tuhan dalam hal-hal yang sederhana.
Bicara tentang NILAI-NILAI yang kita pegang dan lakukan. Nilai-nilai ini akan menentukan keputusan, prioritas kita.
Alkitab mengajarkan di mana hatimu berada, itu akan membentuk nilai dalam hidupmu.
Budaya IFGF Semarang:
- Excellence: Melakukan yang terbaik, bukan asal jadi.
- Stewardship: Mengelola apa yang dipercayakan dengan bijak dan bertanggung jawab.
- Acceptance (Grace, Not Condemnation): No gossip, no judgement
- Appreciation (People Over Program): Orang lebih penting daripada sistem atau program.
- Building People (Memberi Nilai Tambah): Menolong setiap orang bertumbuh dan jadi versi terbaiknya.
- Generations: Different generations serving together.
- Faith for Everyday Life: Iman yang nyata dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin kita tertanam, semakin kita bertumbuh dan berbuah.
Miracle of the East:
Japanese Kakure Kirishitan (Hidden Christians)
- Jepang memang pernah mengalami masa penindasan Kekristenan yang sangat keras, pada masa Tokugawa Shogunate, yang dikenal sebagai Edo Period.
- Mulai sekitar tahun 1614, selama 250 tahun:
- melarang Kekristenan di seluruh Jepang
- memerintahkan pengusiran misionaris
- menuntut umat Kristen meninggalkan iman mereka
1630-an hingga 1700-an: Iman yang dipaksa lenyap dari permukaan
- Gereja-gereja dihancurkan
- Kepemilikan simbol Kristen dilarang
- Setiap keluarga diwajibkan terdaftar di kuil Buddha atau Shinto sebagai bukti “bukan Kristen.”
± 1700-1853 Selama hampir dua abad:
- Tidak ada kebaktian publik
- Tidak ada pendeta
- Tidak ada baptisan resmi
- Tidak ada Alkitab cetak
Momen yang mengejutkan dunia (1865), saat Jepang mulai membuka diri, seorang pastor Prancis membuka gereja di Nagasaki.
- Beberapa orang Jepang datang menemui.
- Ternyata mereka adalah keturunan Kristen yang bertahan 250 tahun. Tanpa pendeta. Tanpa gereja. Tanpa Alkitab cetak.
Ini disebut oleh Paus sebagai: “Miracle of the East”
1. Iman Tidak Boleh Pinjaman — Harus Iman Pribadi
1Pet.2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
- Imamat rajani menegaskan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk berelasi langsung dengan Allah dan berdampak bagi dunia.
- Di Perjanjian Baru jemaat tidak didesain sebagai konsumen rohani, melainkan sebagai murid yang bertumbuh.
Efe.4:13 Supaya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh…”
Ibr.13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.
Ketaatan bukan ketergantungan
Mengapa harus taat dan tunduk kepada pemimpin Rohani?
- Pengakuan bahwa setiap orang punya blind spot
- Kesadaran bahwa tidak ada orang yang cukup objektif menilai dirinya sendiri
- Kerendahan hati untuk memberi otoritas kepada orang lain untuk: Menegur, nengarahkan, melindungi
Ketaatan selalu berada di bawah otoritas Kristus dan kebenaran Firman, bukan ketaatan buta.
Efe.4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
Fungsi lima jawatan pelayanan bukan untuk mengontrol kehidupan jemaat atau membuat jemaat bergantung pada figur pemimpin, melainkan untuk memperlengkapi orang percaya, melepaskan mereka ke dalam panggilan Tuhan, dan memampukan mereka hidup serta melayani dengan dewasa di dalam Kristus.
Ukuran keberhasilan kepemimpinan rohani: Bukan seberapa banyak orang bergantung pada kita, tetapi seberapa banyak orang bisa berdiri dewasa tanpa kita.
2. Hubungan Langsung dengan Sang Sumber, Bukan Ketergantungan pada Ritual atau Event
Yohanes 15:5, Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya… di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
- Yesus mengajarkan bahwa iman kita hidup dan berbuah hanya ketika kita hidup bergantung kepada-Nya setiap hari—bukan pada siapa pun atau apa pun selain Kristus sendiri.
- Yesus juga dengan jelas mengajarkan bahwa kehidupan rohani mengalir dari hubungan langsung dengan Dia, bukan dari aktivitas keagamaan.
- Ritual, liturgi, dan event rohani memiliki tempat yang penting, namun tidak pernah dimaksudkan sebagai sumber kehidupan rohani.
Ibadah dapat membangkitkan iman, pelayanan memberi kepuasan, tetapi kita akan hidup (Alive) dari kedalaman persekutuan pribadi kita dengan Kristus.
3. Setiap Orang Kristen Harus Bisa “Cari Makan” Sendiri dari Alkitab
Kita tidak dirancang makan hanya seminggu sekali, tetapi setiap hari.
Tidak ada panggilan untuk tetap awam secara rohani. Setiap orang percaya dipanggil untuk mengenal Firman, merenungkannya, dan hidup olehnya.
Ibr.5:12 (FAYH) Sudah lama Saudara menjadi orang Kristen, dan seharusnya Saudara sekarang mengajar orang lain. Namun Saudara masih tetap membutuhkan seorang pengajar untuk mengulang asas-asas pokok dalam Firman Allah. Saudara seperti bayi yang hanya minum susu, dan belum dapat mengunyah makanan. Orang yang masih hidup dari susu, belum maju dalam hidup kekristenannya dan tidak tahu banyak tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah. Ia orang Kristen yang masih bayi!
It’s not how much you know, but how deeply your life is aligned with the Word of God.
4. Rumah dan Keluarga Memegang Peran Kunci dalam Pewarisan Iman
Ula.6:5 (FAYH) Kamu harus mengasihi Dia dengan sebulat-bulat hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segala kekuatanmu. (6) Kamu harus selalu ingat akan hukum-hukum yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. (7) Kamu harus mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu, dan membicarakannya pada waktu kamu duduk-duduk di rumah, pada waktu kamu sedang berjalan-jalan di luar, pada malam hari sebelum tidur, dan pada pagi hari sesudah bangun.
Maz.92:13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; (14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. (15) Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, (16) untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
“Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.”
- Tidak seharusnya seseorang semakin lama menjadi orang Kristen justru semakin lelah secara rohani. Ketika kita ditanam di lingkungan yang sehat dan bertumbuh sebagai ‘pohon’ yang sehat, hidup kita seharusnya tetap alive dan semakin berbuah.
“Untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar…”
- Perjalanan hidup kita Bersama Tuhan menjadi kesaksian yang hidup kesetiaan Tuhan: Tuhan tidak pernah berbohong, Tuhan tidak pernah terlambat.
Reality Check:
- Apakah iman saya berdiri karena relasi pribadi dengan Yesus, atau masih bergantung pada orang?
- Dari mana iman saya benar-benar hidup—relasi dengan Kristus, atau event dan aktivitas rohani?
- Apakah saya menggali Firman secara pribadi, atau hanya mengandalkan kotbah di gereja?
- Apakah saya sudah mengambil tanggung jawab mewariskan iman kepada anak-anak?