Tidak semua hal yang merusak hidup kita datang dalam bentuk dosa besar atau keputusan yang keliru.
Sering kali, hidup kita tidak hancur—tetapi berhenti bertumbuh.
Kita tetap ke gereja.
Kita tetap bekerja.
Kita tetap punya teman.
Hidup terlihat baik-baik saja.
Tetapi jika kita jujur, ada banyak orang yang tidak salah jalan—namun tidak maju ke mana-mana.
Dan salah satu penyebab terbesar yang jarang kita sadari adalah pergaulan.
Hari ini kita akan belajar tentang hikmat dalam memilih pergaulan.
Bukan hanya membedakan yang benar dan yang salah,
tetapi membedakan yang baik dan yang lebih baik.
Karena pergaulan yang kita pilih hari ini,
sedang membentuk kebiasaan kita,
dan kebiasaan kita sedang menulis masa depan kita.
Poin 1 — Hikmat Dimulai dari Membedakan yang Baik dan yang Lebih Baik
Hikmat Alkitabiah bukan hanya tentang mengetahui yang benar dan yang salah,
tetapi juga kemampuan membedakan yang baik dan yang lebih baik.
Ada banyak hal dalam hidup ini yang:
- Tidak berdosa
- Tidak melanggar hukum
- Tidak kelihatan merusak
Tetapi tidak membawa kita ke tujuan Allah.
Itulah sebabnya orang bisa hidup “baik-baik saja”, tetapi tidak bertumbuh.
Alkitab berkali-kali menegaskan bahwa orang bijak bukan hanya orang yang menjauhi kejahatan,
melainkan orang yang mengerti arah hidupnya dan memilih hal-hal yang mendukung arah itu.
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”
(1 Korintus 15:33)
Paulus membuka ayat ini dengan kalimat: “Janganlah kamu sesat.”
Karena seseorang bisa merasa tidak sesat,
padahal sedang berjalan menjauh dari tujuan Allah — bukan karena dosa besar,
tetapi karena lingkungan yang salah.
Hikmat bertanya bukan hanya:
- “Apakah ini salah?”
- “Apakah ini berdosa?”
Tetapi juga:
- “Apakah ini membangun?”
- “Apakah ini membuat aku lebih tajam?”
- “Apakah ini membawa aku lebih dekat kepada tujuan Tuhan?”
- “Apakah relasi ini menolong aku menjadi versi terbaik dari diriku di hadapan Allah?”
Termasuk dalam hal memilih pegaulan pergaulan, membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang merusak dan mana yang membangun.
Poin 2 — Pergaulan Membentuk Kebiasaan, Kebiasaan Menentukan Masa Depan
Pernahkah kita sungguh-sungguh memperhatikan:
- Siapa yang kita sebut teman baik?
- Apakah mereka mendorong kita melakukan yang benar?
- Atau justru menormalisasi yang salah?
Pertanyaannya sederhana tapi tajam:
Bagaimana mungkin kita mengharapkan masa depan yang baik jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang tidak berjalan ke arah yang benar?
Itulah sebabnya dikatakan: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
Perhatikan: Alkitab tidak berkata pergaulan yang buruk langsung menghancurkan hidup,
tetapi merusakkan kebiasaan yang baik—perlahan, halus, dan sering kali tanpa kita sadari.
“Show me your friends, and I will show you your future.”
Dan dari kebiasaan, kita menemukan masa depan.
Poin 3 — Persahabatan yang Benar Adalah Investasi yang Memberi Return
Ironinya zaman sekarang:
- Banyak orang mau invest dalam bisnis
- Tapi sedikit yang mau invest dalam pertemanan
Padahal kalau kita mendapat uang dari investor, tetapi dikelilingi orang yang keliru,
uang itu bisa habis — dan hidup tetap stagnan.
“Berdua lebih baik dari pada seorang diri… mereka menerima upah yang baik.”
(Pengkotbah 4:9–10)
Dalam NIV: “They have a good return for their labor.”
Istilah good return adalah istilah investasi.
Maka good friendship is a good investment.
The very best investment you ever make in life will not be a financial one, but the investment made in relationships.
Poin 4 — Hubungan yang Nyaman Belum Tentu Menghasilkan Buah
Yesus menceritakan perumpamaan pohon ara (Lukas 13:6–9).
Pohon itu:
- Tidak mati
- Tidak merusak
- Tidak mengganggu
Tetapi tidak berbuah.
Banyak hubungan kita seperti itu:
- Kita nyaman
- Kita diterima
- Kita happy
- Kita bisa jadi diri sendiri
Namun setelah bertahun-tahun, hidup kita tidak maju-maju.
Kita tahu there is more in life tetapi kita stuck. Yang menyedihkan banyak orang tidak sadar mereka stuck.
Tahun berlalu:
- Lebih tua, tapi tidak lebih tajam
- Lebih lama, tapi tidak naik level
- Tidak ada buah hidup yang nyata
Poin 5 — Pertumbuhan Membutuhkan Pergaulan yang Menajamkan (tapi aman)
Jika kita mau menjadi lebih produktif dan naik ke level yang lebih tinggi,
kita membutuhkan lingkaran pergaulan yang berbeda.
Bukan sekadar pergaulan yang nyaman,
tetapi pergaulan yang menajamkan.
“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
(Amsal 27:17)
Menajamkan berarti:
- Ada gesekan
- Ada panas
- Kadang ada percikan
Tetapi hasilnya jelas: lebih tajam.
Lebih tajam artinya masalah yang sama bisa diselesaikan lebih cepat.
Di sinilah pentingnya kita berada dalam komunitas yang benar.
Itulah sebabnya kita perlu ada di iCare —
komunitas tempat kita bertumbuh bersama.
iCare bukan tempat orang sempurna berkumpul,
tetapi tempat orang yang mau bertumbuh berjalan bersama.
Di iCare:
- Kita saling menguatkan
- Kadang kita saling menajamkan
- Tetapi juga tempat yang aman untuk belajar
- Aman untuk jujur
- Aman untuk ditegur
- Aman untuk bertumbuh tanpa takut dihakimi
“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”
(Amsal 13:20)
Masalahnya?
Bergaul dengan orang bijak itu intimidating. Kita kelihatan bodoh. Kita ditegur. Dan kita tidak suka itu.
Karena itu banyak orang lebih nyaman di kelompok yang bebal —
karena di sana dia kelihatan paling pintar.
“If you are the smartest in the group, get another group.”
Kalau kita yang paling pintar di kelompok itu,
mungkin kita tidak sedang bertumbuh,
kita hanya sedang merasa nyaman.
Poin 6 — Teman Sejati Tidak Membiarkan Kita Tetap Lumpuh
Markus 2:1–12 memberi gambaran jelas.
Yesus tidak melihat iman orang lumpuh, tetapi iman mereka.
Teman-teman ini:
- Tidak mau dia tetap lumpuh
- Mau dia berdiri di level yang sama
- Mau potensinya berkembang
- Dan mau dia bertemu dengan Yesus
Namun ada syarat: Orang lumpuh itu kooperatif.
Modal utama menjadi bijaksana adalah: Kemauan untuk ditegur, dinasehati, dan dikoreksi.
Willingness to learn makes you smart.
Willingness to be corrected makes you wise.
Poin 7 — Hikmat Sejati Berakar pada Kerendahan Hati, Bukan Kesombongan
Amsal 15:31–33 Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi. Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.
Hikmat sejati tidak lahir dari seberapa banyak yang kita ketahui,
tetapi dari seberapa rendah hati kita mau mendengar dan dikoreksi.
Daud mau ditegur oleh Natan — dan bertobat.
Herodes menolak teguran Yohanes — dan membunuhnya.
Perbedaan antara Daud dan Herodes bukan terletak pada kuasa, posisi, atau otoritas,
melainkan pada kerendahan hati untuk menerima teguran.
Orang bijak bukan orang yang selalu benar,
melainkan orang yang mengarahkan telinganya kepada teguran yang membawa kehidupan.
Mendengarkan tidak alami — harus dilatih.
Saat kita berbicara, kita mengeluarkan apa yang kita tahu.
Saat kita mendengar, kita menerima apa yang belum kita tahu.
“Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi.”
(Amsal 27:5–6)
Yeremia 9:23–24 Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”
Hikmat sejati tidak dibuktikan oleh seberapa pintar kita berbicara, tetapi oleh seberapa rendah hati kita mau mendengar, dikoreksi, dan semakin mengenal Tuhan.
Penutup
Hidup kita tidak hanya ditentukan oleh keputusan besar yang kita buat sekali-sekali,
tetapi oleh lingkaran pergaulan yang kita pilih setiap hari.
Kita bisa punya mimpi besar, doa yang sungguh, dan potensi yang luar biasa,
tetapi tanpa pergaulan yang benar, kita bisa tetap nyaman — namun tidak pernah bertumbuh.
Tuhan rindu kita bukan sekadar dikelilingi oleh orang yang membuat kita merasa diterima,
tetapi oleh orang-orang yang menolong kita menjadi siapa kita seharusnya di dalam Kristus.
Karena itulah kita membutuhkan komunitas rohani yang sehat —
tempat kita berjalan bersama, bertumbuh bersama,
saling menguatkan ketika lemah,
dan saling menajamkan ketika kita mulai nyaman.
Di IFGF Semarang, iCare hadir bukan sekadar sebagai sebuah kelompok,
tetapi sebagai ruang pertumbuhan:
tempat yang aman untuk jujur,
tempat belajar mendengar dan ditegur,
tempat kita dibentuk, ditajamkan, dan diarahkan kembali kepada Yesus.
Karena itu hari ini, marilah kita dengan jujur mengevaluasi:
- Siapa yang membentuk kebiasaan kita?
- Siapa yang menajamkan kita?
- Dan siapa yang membawa kita semakin dekat kepada Yesus?
Dan sementara kita belajar memilih teman yang bijaksana,
marilah kita juga menyerahkan hati kita untuk dibentuk Tuhan,
supaya kita pun layak menjadi teman yang bijaksana bagi orang lain.