Your church will be as healthy as the marriage of the senior pastor.
“Growth often comes with a price. But your health, your children, and your marriage should never be the currency you pay with.”
The church should never stand between a husband and wife.
“Pastor, one of the greatest gifts you can give your church is longevity.”
Salah satu hadiah terbesar yang dapat Anda berikan kepada gereja Anda adalah kesetiaan melayani dengan kesehatan dalam jangka panjang.
Masalahnya:
banyak hamba Tuhan tidak runtuh karena dosa besar,
tetapi karena kejenuhan, menyerah atau tetap melayani dalam keadaan lelah (secara emosi).
Urgently wanted: healthy leaders who lead healthy churches.
Empat Jebakan Pelayanan
Keempat jebakan ini punya akar yang sama: Pelayanan bergeser dari panggilan menjadi pembuktian diri.
Akibatnya:
- kelelahan
- kejenuhan
- kerentanan emosi
- panggilan kehilangan sukacita
1. Unsustainable Pace
Kecepatan yang Membahayakan
“Be careful with speed, because speed carries weight.”
— Ps. Jeffrey Rachmat
Pelayanan bukan sprint, tetapi maraton.
Membangun Ritme:
- Bangun ritme, bukan hanya jadwal
Ritme = kerja + istirahat + pemulihan - Evaluasi kecepatan secara berkala
Tanyakan: “Apakah pace ini masih sehat untuk 5–10 tahun ke depan?” - Lindungi waktu istiraht dan pemulihan
Istirahat bukan hadiah setelah lelah, tetapi disiplin sebelum lelah.
Slow Is Fast
Tuhan Bekerja dengan Tahapan dan Proses
“Slow is fast” bukan prinsip manajemen modern semata, tetapi cara Allah bekerja sejak awal penciptaan.
A. Tuhan Bekerja dalam tahapan
Dalam penciptaan, Allah tidak menciptakan semuanya sekaligus,
tetapi hari demi hari, tahap demi tahap.
- Terang → langit → darat → kehidupan → manusia
- Setiap tahap “baik”, sebelum berlanjut ke tahap berikutnya
Ini mengajarkan satu kebenaran penting: Apa yang dibangun dengan tahapan yang benar akan bertahan lebih lama daripada yang dibangun dengan tergesa-gesa.
Allah tidak terburu-buru, karena Tuhan tidak pernah dikejar waktu.
B. Proses Tidak Bisa Dilangkahi Tanpa Konsekuensi
Ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat, betapapun kita ingin.
Seorang ibu yang sedang mengandung tidak bisa dipercepat, tidak bisa dilompati, harus menunggu waktu yang tepat untuk melahirkan.
Jika dipaksakan yang rusak bukan hanya proses tetapi kehidupan itu sendiri.
Pertumbuhan yang sehat membutuhkan waktu, bukan tekanan.
C. Apa yang Cepat Belum Tentu Bertahan Lama
Cepat sering terlihat mengesankan, tetapi kecepatan tidak menjamin ketahanan.
- Cepat bertumbuh → bisa cepat runtuh
- Cepat besar → belum tentu kuat
Yang dipercepat sering membutuhkan perbaikan besar di kemudian hari.
Sebaliknya:
- yang dibangun perlahan
- yang dirawat dengan sabar
- yang bertumbuh sesuai kapasitas
akan lebih tahan terhadap tekanan.
D. Yang Terpenting Bukan Speed, Tapi Direction
Kecepatan hanya berarti jika arahnya benar.
E. Yang Terpenting Bukan Speed, Tapi Pertumbuhan yang Konsisten
Allah jarang bekerja dengan lonjakan besar,
tetapi sering bekerja melalui kesetiaan kecil yang terus-menerus.
- bertumbuh sedikit demi sedikit
- setia hari demi hari
- taat tahap demi tahap
Slow is fast—karena yang konsisten selalu sampai lebih jauh daripada yang tergesa.
2. Messiah Syndrome
Sindrom ‘saya harus ada di mana-mana’ adalah keyakinan terselubung bahwa pelayanan tidak akan berjalan tanpa kehadiran kita.
Ciri-ciri:
- sulit mendelegasikan
- merasa bersalah jika tidak hadir
- ingin mengontrol semua hal
- takut pelayanan kacau tanpa dirinya
Ini sering dibungkus sebagai:
- tanggung jawab
- kesetiaan
- kerelaan berkorban
Apa yang kelihatan sebagai kerendahan hati atau kesetiaan, sesungguhnya adalah sebuah kesombongan.
Solusi:
- Stewardship: Kita hamba, gereja milik Kristus.
- Bangun sistem, bukan ketergantungan personal: Pelayanan sehat tidak runtuh saat pemimpin istirahat.
- Latih “absen yang disengaja”: Belajar tidak hadir tanpa rasa bersalah—dan melihat Tuhan tetap bekerja.
3. Comparison Trap
Terjebak dalam Permainan Membandingkan Diri
“Comparison is the thief of joy.”
Ketika kita sibuk membandingkan diri, kita lupa bahwa setiap orang memiliki perlombaan sendiri—dengan panggilan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
4. Unhealthy Priorities
Prioritas yang Tidak Sehat: Pelayanan Lebih Penting dari Keluarga & Kesehatan
Jebakan umum:
- pelayanan selalu nomor satu
- keluarga dan kesehatan selalu “nanti”
Akibatnya:
- tidak ada pit stop
- tidak ada waktu mengisi ulang
- hidup terus di mode darurat
Solusi:
- Tetapkan pit stop wajib
Waktu keluarga, istirahat, dan kesehatan tidak dinegosiasikan. - Keluarga adalah pelayanan pertama dan terutama
Bukan gangguan pelayanan - Transisi sadar antara pelayanan dan rumah
Jangan membawa beban pelayanan ke ruang keluarga. - Rawat tubuh sebagai alat pelayanan jangka panjang
Mengabaikan kesehatan hari ini mencuri kesetiaan esok hari.
Tujuh Nilai Membangun Pelayanan dan Keluarga Hamba Tuhan yang Sehat
Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Tidak ada manusia yang sempurna, maka tidak ada pernikahan yang sempurna. Yang Tuhan kehendaki bukan kesempurnaan, tetapi pertumbuhan.
Banyak krisis keluarga hamba Tuhan bukan karena niat yang salah, melainkan karena nilai yang benar tidak diprioritaskan secara sadar.
1. Marriage Is an Exchange, Not a Transaction
(Pernikahan adalah pertukaran kasih, bukan transaksi)
Transaksi terjadi ketika:
- nilai harus seimbang
- ada tuntutan timbal balik
- “aku memberi jika kamu memberi”
Exchange terjadi ketika:
- kasih diberikan meski tidak seimbang
- pemberian lahir dari komitmen, bukan syarat
- fokus pada relasi, bukan perhitungan
“Masa pacaran adalah contoh sebuah exchange—memberi tanpa hitung-hitungan; tetapi dalam banyak pernikahan, hal itu berubah menjadi transaksi yang saling menuntut.”
Nilai ini mencegah:
- pernikahan berbasis tuntutan
- rasa tidak adil yang terus diingat
- relasi yang penuh perhitungan
Aplikasi:
- Mengasihi karena perjanjian, bukan keuntungan
- Memberi tanpa menuntut/menagih
- Saling elayani tanpa mencatat skor
2. Grace & Acceptance over Perfection
(Penerimaan dan anugerah lebih dari kesempurnaan)
Tidak ada pasangan yang sempurna.
Tidak ada keluarga yang sempurna.
Yang Tuhan cari adalah PERTUMBUHAN.
Nilai ini mencegah:
- ekspektasi tidak manusiawi
- rasa bersalah berlebihan
- tekanan batin dalam pernikahan
- ketakutan gagal di rumah
Praktik Nyata
- Menerima pasangan apa adanya (kelebihan dan kekurangan) sebagaimana Kristus menerima kita.
- Memberi ruang gagal tanpa menghakimi.
- Perubahan dimulai dari saya.
3. Treasure Your Marriage
Apa yang dihargai akan dirawat, dan yang dirawat akan bertumbuh.
Inti Nilai
Apa yang kita hargai akan kita prioritaskan dan kita rawat.
Jika kita menghargai pernikahan maka kita tidak akan memberikan sisa waktu dan sisa energi.
Ketika kita menghargai pernikahan:
- Pasangan merasa di prioritaskan
- Keluarga mendapatkan apa yang seharusnya
Praktik Nyata
- Waktu merawat pernikahan dijadwalkan, bukan menunggu senggang
- Investasi emosional, bukan hanya fungsional
- Merawat relasi sebelum memperbaiki masalah (tabungan emosi)
Apa yang kita anggap berharga, akan kita rawat.
4. Choose Your Battles Wisely
Tidak semua hal harus dimenangkan.
Maturity is not about always being right or always winning, but about knowing what is essential and what can be let go.
- Kedamaian lebih penting daripada ego
- Hubungan lebih bernilai daripada memenangkan sebuah argumen
Praktik
- Bertanya: “Ini prinsip atau preferensi?”
- Mengalah bukan bertai kalah.
- Menjaga nada dan memilih waktu dalam konflik
5. Authenticity over Image
Kejujuran lebih penting daripada citra rohani
“Ketika pencitraan lebih penting daripada keaslian, lahirlah jurang antara mimbar dan rumah, kelelahan karena topeng rohani, dan anak-anak yang melihat iman yang palsu”
“Dunia membutuhkan pemimpin yang asli, berani tampil apa adanya, dan tidak bersembunyi di balik pencitraan rohani.”
Prinsip: Keaslian lebih penting daripada pencitraan
6. family is more important than ministry
Keluarga lebih penting, bukan lawan pelayanan
“Ini bukan memilih antara keluarga atau pelayanan, tetapi memahami bahwa keluarga adalah pelayanan yang pertama dan terutama.”
“Ketika urutan terbalik, pelayanan menjadi pesaing keluarga, anak merasa kalah dari gereja, dan istri merasa sendirian serta terpinggirkan.”
“Urutan yang salah selalu melukai keluarga.”
Prinsip : Keluarga adalah ladang pemuridan pertama
Aplikasi:
- Keputusan pelayanan harus selalu mempertimbangkan dampak keluarga
- Keluarga dilibatkan, bukan ditinggalkan
- Hadir sebagai suami dan ayah, bukan hanya pendeta
7. If You Want your Marriage to Live, You Must Be Willing to Die
Jika pernikahan mau hidup, ego harus mati
Pernikahan yang hidup menuntut kematian—bukan kematian relasi, tetapi kematian egoisme.
Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya…”
Tanpa kematian ego, tidak ada kebangkitan relasi.