“Kita tidak menggunakan orang untuk membangun pelayanan,
kita menggunakan pelayanan untuk membangun orang.”
Di banyak gereja, pelayanan sering tanpa sadar berubah menjadi mesin produksi: orang direkrut untuk mengisi jadwal, memenuhi target, dan menjaga program tetap berjalan. Akhirnya yang terjadi bukan pertumbuhan, tetapi kelelahan, kekecewaan, dan kehilangan sukacita melayani.
Di IFGF Semarang, kita memilih jalan yang berbeda.
Kita percaya bahwa gereja bukan tentang membangun program, tetapi membangun manusia.
Pelayanan bukan alat untuk mengeksploitasi tenaga—melainkan alat Tuhan untuk membentuk karakter, iman, dan panggilan hidup seseorang.
Karena itu kita memegang satu nilai utama:
“We don’t use people to build ministry.
We use ministry to build people.”
1. Budaya Penerimaan (Culture of Acceptance)
Orang diterima sebelum mereka diutus
Yesus tidak memanggil murid-murid-Nya karena mereka sudah siap—
Ia memanggil mereka karena Ia melihat potensi dalam diri mereka.
Di IFGF Semarang:
- Orang tidak harus “sempurna” untuk melayani.
- Orang tidak harus “hebat dulu” untuk diterima.
- Orang boleh bertumbuh sambil melayani.
Budaya yang sehat berkata, “You belong before you perform.”
Secara praktis:
- Leader tidak menghakimi kelemahan, tapi membimbing proses.
- Kesalahan dipakai sebagai bahan pembelajaran, bukan alat menghukum.
- Orang merasa aman secara emosional dan rohani di dalam tim.
Tanpa penerimaan, pelayanan menjadi tekanan. Dengan penerimaan, pelayanan menjadi ruang pertumbuhan.
2. Orang Dibangun, Bukan Dimanfaatkan
Setiap pelayanan adalah platform pembentukan manusia.
Di IFGF Semarang:
- Kita tidak hanya memberi tugas, tetapi memberi pembinaan.
- Kita tidak hanya minta komitmen, tetapi memberi mentoring.
- Kita tidak hanya pakai talenta, tetapi membangun karakter.
Secara praktis:
- Ada coaching, bukan hanya jadwal.
- Ada evaluasi untuk pertumbuhan, bukan hanya untuk kinerja.
- Ada ruang naik level, bukan hanya mengisi slot.
Pelayanan bukan tempat seseorang “diperas”.
Pelayanan adalah ruang pembentukan murid.
3. Budaya Apresiasi (Culture of Appreciation)
Budaya menghargai sekecil apapun yang seorang lakukan dalam pelayanan. Ketika kontribusi sederhana dihormati, orang merasa dilihat, diterima, dan dimotivasi untuk terus bertumbuh.
“Kamu tidak hanya dibutuhkan. Kamu dihargai.”
Karena itu, orang tidak melayani karena tekanan atau rasa bersalah,
tetapi karena mereka merasa dilihat, dihormati, dan dimiliki.
“People give their best when they feel valued.”
Secara praktis:
- Ucapkan terima kasih secara spesifik.
- Rayakan kesetiaan, bukan hanya prestasi besar.
- Hormati waktu, tenaga, dan keluarga volunteer.
- Jangan hanya mengoreksi—hargai dulu.
Apresiasi bukan bonus.
Apresiasi adalah oksigen budaya.
4. Be Generous to Your Volunteers — Generosity Builds Loyalty
(Kemurahan: bagaimana gereja berinvestasi secara nyata)
Generosity berbicara tentang keputusan organisasi dan kepemimpinan.
Kita tidak hanya menghargai secara kata-kata,
kita juga menginvestasikan sumber daya.
Kemurahan berarti:
- Perhatian
- Training
- Makanan
- Fasilitas
- Dukungan emosional
Ini berkata kepada volunteer:
“Kami tidak hanya menghormati kamu — kami berinvestasi dalam kamu.”
Di IFGF Semarang:
Volunteer harus merasa:
“Saya tidak diperas. Gereja memberikan nilai tambah dalam hidup saya.”
5. Culture of Empowerment, Not Control
Pemimpin ada untuk melayani. Menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan. Maka disebut pelayanan.
Menjadi pemimpin berarti:
- Mengangkat orang, bukan mengendalikan mereka
- Membuka ruang bertumbuh, bukan mempersempit gerak
- Membangun kepercayaan, bukan ketergantungan
Karena itu, kita membangun orang dengan memberi:
- Kepercayaan: Pemimpin yang memberdayakan berani mempercayakan tanggung jawab, bukan memegang semuanya sendiri. Kepercayaan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab.
- Ruang untuk Mencoba: Orang diizinkan belajar, mencoba, dan bahkan gagal dengan aman. Kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses pertumbuhan, bukan alasan untuk menarik kepercayaan.
- Kesempatan Memimpin: Orang yang setia dan bertumbuh diberi kesempatan memimpin, bukan selamanya berada di posisi yang sama. Pelayanan menjadi tempat lahirnya pemimpin baru, bukan hanya pelaksana.
Kontrol melahirkan ketergantungan.
Pemberdayaan melahirkan kedewasaan.
Budaya ini menciptakan tim yang sehat,
pemimpin yang berlipat ganda,
dan pelayanan yang berkelanjutan.
Leader yang sehat berkata: “If you grow, the church grows.”
6. Family Is More Important Than Ministry
“We don’t build a church by sacrificing families. We build a church by strengthening them.”
Pelayanan tidak boleh menjadi pesaing keluarga, keluarga harus menjadi pendukung utama seseorang melayani.
Secara praktikal ini berarti:
- Kita menghormati waktu keluarga volunteer
- Kita tidak mengagungkan orang yang selalu “ada” tetapi hidupnya berantakan
- Kita memberi ruang istirahat tanpa rasa bersalah
- Kita memperhatikan kesehatan emosional dan spiritual
Jika pelayanan merusak keluarga, maka itu bukan pelayanan yang sehat.
Pelayanan yang sehat justru memperkuat kehidupan orang-orang yang melayani.
Di IFGF Semarang, keluarga lebih penting daripada ministry; pelayanan akan selalu ada, tetapi momen-momen keluarga yang kita lewatkan tidak akan pernah terulang.
7. Everyone Is Replaceable — But No One Is Disposable
Di dalam Kerajaan Allah, tidak ada pelayanan yang bergantung pada satu orang. Setiap orang harus dapat digantikan. Karena itu, kita perlu menghargai mereka yang harus beristirahat dari pelayanan karena musim kehidupannya sedang berubah. Di sisi lain, kita juga tidak mudah “membuang” orang yang sedang mengalami masa sulit. Yang dibutuhkan adalah percakapan yang mendalam dan keterbukaan, supaya setiap orang tetap merasa dihargai dan diperhatikan.
Karena itu:
- Kita membangun tim, bukan superstar
- Kita membangun sistem, bukan ketergantungan
- Kita membangun generasi, bukan ego
Secara praktikal:
- Kita selalu melatih penerus
- Kita mendorong regenerasi
- Kita tidak menahan orang yang perlu istirahat atau bertumbuh
- Kita tidak membuat siapa pun merasa “kalau saya tidak ada, semuanya mati”
Orang yang tidak bisa diganti akan menjadi lelah.
Orang yang tahu dirinya bisa diganti akan melayani dengan bebas dan sehat.
Di IFGF Semarang:
Semua posisi bisa diganti,
tetapi setiap orang tetap bernilai.
Ministry bersifat sementara, tetapi panggilan dan martabat manusia bersifat kekal