Perbedaan penulisan Tesis S2 Kualitatif dan Kuantitatif

Menulis tesis S2 adalah sebuah proses akademik yang menuntut ketelitian, kedalaman analisis, dan kesesuaian metode dengan tujuan penelitian. Di antara beragam pendekatan penelitian, kualitatif dan kuantitatif merupakan dua arus utama yang sering dipilih mahasiswa pascasarjana. Keduanya memiliki kesamaan dalam kerangka penulisan—dari Bab I hingga Bab V—namun berbeda secara mendasar dalam fokus, teknik pengumpulan data, analisis, hingga bentuk kesimpulan. Memahami perbedaan ini sangat penting agar peneliti mampu menulis tesis dengan arah metodologis yang tepat dan menghasilkan karya ilmiah yang sahih serta relevan.

1. Bab I – Pendahuluan

  • Kualitatif:
    Lebih menekankan pada fenomena, konteks, dan makna. Identifikasi masalah biasanya lahir dari observasi lapangan atau gap teori–praktik. Rumusan masalah sering berbentuk pertanyaan eksploratif (“Bagaimana…?”, “Mengapa…?”).
  • Kuantitatif:
    Lebih menekankan pada hubungan antar variabel. Identifikasi masalah banyak dipengaruhi teori dan hasil penelitian sebelumnya. Rumusan masalah berbentuk hipotesis (“Apakah terdapat pengaruh…?”, “Sejauh mana hubungan…?”).

2. Bab II – Kajian Pustaka

  • Kualitatif:
    Landasan teori digunakan untuk memberikan kerangka berpikir awal, tetapi tidak terlalu kaku. Fokus pada konsep-konsep utama yang akan menjadi lensa analisis.
  • Kuantitatif:
    Kajian pustaka lebih sistematis untuk membangun kerangka teori dan hipotesis. Teori-teori dipakai untuk merumuskan model penelitian.

3. Bab III – Metode Penelitian

  • Kualitatif:
    Metode penelitian menjelaskan paradigma penelitian, lokasi, subjek, teknik pengumpulan data (wawancara, observasi, dokumen), serta teknik analisis data (misalnya coding, reduksi, kategorisasi, tematisasi). Validitas dijaga dengan triangulasi, member check, audit trail.
  • Kuantitatif:
    Menjelaskan populasi, sampel, variabel, instrumen (kuesioner, tes), teknik pengumpulan data, serta teknik analisis statistik (deskriptif, inferensial, regresi, ANOVA, SEM, dll.). Validitas dijaga melalui uji validitas & reliabilitas instrumen.

4. Bab IV – Hasil dan Pembahasan

  • Kualitatif:
    Hasil disajikan dalam bentuk narasi deskriptif, kutipan langsung dari informan, pola, tema, dan interpretasi. Pembahasan menghubungkan temuan dengan teori serta konteks lapangan.
  • Kuantitatif:
    Hasil disajikan dalam bentuk angka, tabel, grafik, hasil uji statistik (uji t, regresi, korelasi, dll.). Pembahasan fokus pada penerimaan atau penolakan hipotesis dan perbandingan dengan penelitian sebelumnya.

5. Bab V – Kesimpulan dan Saran

  • Kualitatif:
    Kesimpulan berupa temuan utama, makna, dan implikasi yang muncul dari data. Tidak digeneralisasi, melainkan kontekstual.
  • Kuantitatif:
    Kesimpulan berupa jawaban hipotesis dan temuan yang dapat digeneralisasi ke populasi (tergantung sampel).

Perbedaan Tesis Kualitatif & Kuantitatif

Bab / AspekKualitatifKuantitatif
Bab I – PendahuluanFokus pada fenomena, makna, dan konteks. Rumusan masalah berbentuk pertanyaan eksploratif (“Bagaimana…?”, “Mengapa…?”).Fokus pada variabel & hubungan antar variabel. Rumusan masalah berupa hipotesis atau pertanyaan terukur (“Apakah…?”, “Seberapa besar…?”).
Bab II – Kajian Pustaka
Menyediakan lensa analisis & pemahaman konsep. Lebih fleksibel, tidak terlalu kaku.
Membangun kerangka teori dan hipotesis. Lebih sistematis dan teoritis.
Bab III – Metode
Paradigma, setting/lokasi, subjek
(informan), teknik pengumpulan data: wawancara, observasi, dokumen. Analisis: coding, reduksi, kategorisasi, tematisasi. Validitas: triangulasi, member check.

Populasi & sampel, variabel, instrumen (kuesioner, tes). Teknik analisis: statistik deskriptif & inferensial (uji t, korelasi, regresi, ANOVA, SEM). Validitas: uji validitas & reliabilitas instrumen.
Bab IV – Hasil & Pembahasan
Disajikan secara naratif & deskriptif, banyak kutipan informan, tema, dan pola. Pembahasan menekankan interpretasi & makna.
Disajikan dalam bentuk angka, tabel, grafik, hasil uji statistik. Pembahasan fokus pada hipotesis diterima atau ditolak, serta perbandingan dengan teori.
Bab V – Kesimpulan & Saran
Menarik temuan utama &
implikasi kontekstual(tidak untuk generalisasi).

Menarik jawaban hipotesis dengan potensi generalisasi pada populasi.
Fokus Utama
Makna, proses, pengalaman, konteks.

Angka, variabel, hubungan sebab-akibat.
Output Penelitian
Teori substantif, model, konsep, atau pemahaman baru.

Generalisasi, pengujian teori, hubungan variabel.

Contoh Judul Tesis Kualitatif

  1. Makna Kepemimpinan Hamba bagi Pendeta Muda: Studi Fenomenologi Berdasarkan Markus 10:42–45
  2. Pengalaman Jemaat dalam Menghayati Kasih Karunia Allah di Tengah Penderitaan: Studi Naratif di Gereja X Semarang
  3. Dinamika Spiritualitas Guru Kristen dalam Mengintegrasikan Iman dan Pembelajaran di Sekolah Kristen
  4. Praktik Disiplin Rohani dalam Pembentukan Karakter Pemimpin Gereja: Studi Kasus di Gereja Lokal IFGF

Fokus pada pengalaman, makna, narasi, fenomena.


Contoh Judul Tesis Kuantitatif

  1. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Hamba terhadap Efektivitas Pelayanan Jemaat di Gereja X Semarang
  2. Hubungan Antara Spiritualitas Pribadi dan Kinerja Pengajar di Sekolah Kristen
  3. Pengaruh Kedisiplinan Doa dan Pembacaan Alkitab terhadap Tingkat Kepuasan Hidup Mahasiswa Teologi
  4. Pengaruh Budaya Organisasi Gereja terhadap Komitmen Pelayanan Pemuda

Fokus pada variabel, hubungan, pengaruh, uji statistik.


Ringkasnya:

  • Kualitatif = “Bagaimana makna…?”, “Mengapa…?”, “Apa pengalaman…?”
  • Kuantitatif = “Apakah ada pengaruh…?”, “Sejauh mana hubungan…?”

Perbandingan Bab I Tesis Kualitatif vs Kuantitatif

Sub-Bagian Bab IKualitatifKuantitatif
Latar BelakangMenyoroti fenomena, pengalaman, atau realitas sosialyang perlu dipahami maknanya. Banyak memakai narasi deskriptif dan konteks.Menekankan hubungan antar variabelberdasarkan teori dan penelitian sebelumnya. Disajikan lebih sistematis dan logis menuju pada perumusan hipotesis.
Identifikasi Masalah
Fokus pada kesenjangan makna atau fenomena yang belum terjelaskan. Misalnya: ada gejala sosial, tetapi makna di baliknya belum tergali.

Fokus pada kesenjangan teoritis atau empiristerkait variabel tertentu. Misalnya: ada hasil penelitian berbeda atau variabel yang belum diuji.

Fokus Penelitian

Biasanya berbentuk fenomena khusus yang akan dieksplorasi. Misalnya: “Fokus penelitian ini adalah pengalaman guru dalam mengintegrasikan iman dalam pembelajaran.”

Biasanya berbentuk fenomena
Rumusan Masalah
Berupa pertanyaan terbuka/eksploratif: “Bagaimana…?”, “Mengapa…?”

Berupa pertanyaan terukur: “Apakah terdapat pengaruh…?”, “Sejauh mana hubungan…?”
Tujuan Penelitian
Untuk memahami, menafsirkan, dan menemukan makna dari fenomena.

Untuk menguji, mengukur, dan membuktikan hipotesis melalui data kuantitatif.
Manfaat Penelitian
Lebih menekankan kontribusi pada pemahaman mendalam, pengembangan teori substantif, atau model konseptual.
Lebih menekankan kontribusi pada pengujian teori, generalisasi hasil, dan prediksi.
Sistematika PenulisanTidak berbeda banyak, tapi biasanya menekankan fleksibilitas alur sesuai dengan sifat eksploratif penelitian.
Lebih kaku dan terstruktur, mendukung pengujian hipotesis.


Perbandingan Rumusan Masalah & Hipotesa

AspekRumusan MasalahHipotesa
DefinisiPertanyaan penelitian yang menuntun arah penelitian.Jawaban sementara atau dugaan yang akan diuji kebenarannya.
Ada di mana
Ada pada tesis kualitatif dan kuantitatif.

Hanya ada pada tesis kuantitatif.
Bentuk Kalimat
Umumnya berbentuk
 pertanyaan.

Umumnya berbentuk pernyataan.
Sifat
Eksploratif (kualitatif) atau verifikatif (kuantitatif).

Deduktif, turunan dari teori atau penelitian sebelumnya.
Contoh (Kualitatif)
“Bagaimana pendeta muda memahami makna kepemimpinan hamba dalam pelayanan?”
(Tidak ada hipotesa).
Contoh (Kuantitatif)
“Apakah terdapat pengaruh kepemimpinan hamba terhadap komitmen pelayanan jemaat?”

H1: “Terdapat pengaruh positif kepemimpinan hamba terhadap komitmen pelayanan jemaat.”
Fungsi
Menjadi arah penelitian, menunjukkan fokus yang diteliti.

Menjadi proposisi yang diuji secara statistik.

Jadi, sederhananya:

  • Rumusan Masalah = pertanyaan.
  • Hipotesa = dugaan jawaban atas pertanyaan itu.

Contoh Bab I Tesis Kuantitatif dengan Hipotesa

BAB I – PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kepemimpinan gereja memiliki peran penting dalam membangun komitmen jemaat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang melayani (servant leadership) mampu meningkatkan kepuasan, loyalitas, dan partisipasi anggota organisasi. Namun, di konteks gereja lokal Indonesia, belum banyak penelitian kuantitatif yang menguji secara empiris apakah kepemimpinan hamba benar-benar berpengaruh signifikan terhadap komitmen pelayanan jemaat.
Fenomena di beberapa gereja menunjukkan bahwa meskipun banyak pendeta mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan, tidak semua jemaat menunjukkan tingkat komitmen yang sama. Oleh sebab itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menguji pengaruh kepemimpinan hamba terhadap komitmen pelayanan jemaat.

1.2 Identifikasi Masalah

  1. Konsep kepemimpinan hamba sering diajarkan dalam teologi, tetapi penerapannya di gereja lokal belum selalu konsisten.
  2. Belum banyak penelitian kuantitatif di Indonesia yang menguji hubungan servant leadership dengan komitmen jemaat.
  3. Tingkat komitmen pelayanan jemaat bervariasi, meskipun ajaran kepemimpinan hamba disampaikan di gereja.
  4. Belum diketahui sejauh mana dimensi-dimensi servant leadership (misalnya kerendahan hati, empati, stewardship) benar-benar memengaruhi sikap jemaat.
  5. Dimensi komitmen jemaat (afektif, normatif, keberlanjutan) belum banyak diuji kaitannya dengan servant leadership.
  6. Ada kemungkinan faktor-faktor lain (budaya organisasi gereja, gaya komunikasi, motivasi rohani) ikut memengaruhi komitmen jemaat, namun hubungan spesifiknya dengan servant leadership masih belum jelas.

1.3 Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat pengaruh kepemimpinan hamba terhadap komitmen pelayanan jemaat?
  2. Apakah kepemimpinan hamba berpengaruh signifikan terhadap komitmen afektif jemaat?
  3. Apakah kepemimpinan hamba berpengaruh signifikan terhadap komitmen normatif jemaat?
  4. Apakah kepemimpinan hamba berpengaruh signifikan terhadap komitmen keberlanjutan jemaat?

1.4 Hipotesa Penelitian

  • Hipotesa Umum (H):
    Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kepemimpinan hamba dan komitmen pelayanan jemaat.
  • Hipotesa Khusus:
    • H1: Servant leadership berpengaruh positif terhadap komitmen afektif jemaat.
    • H2: Servant leadership berpengaruh positif terhadap komitmen normatif jemaat.
    • H3: Servant leadership berpengaruh positif terhadap komitmen keberlanjutan jemaat.

1.5 Tujuan Penelitian

  1. Untuk menguji pengaruh servant leadership terhadap komitmen pelayanan jemaat.
  2. Untuk mengetahui hubungan servant leadership dengan komitmen afektif, normatif, dan keberlanjutan.

1.6 Manfaat Penelitian

  • Teoretis: Memberikan bukti empiris tentang hubungan servant leadership dan komitmen pelayanan jemaat, serta memperkaya literatur teologi kepemimpinan gereja.
  • Praktis: Memberi masukan bagi gereja dalam mengembangkan model kepemimpinan yang efektif untuk meningkatkan komitmen jemaat.

1.7 Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan …
Bab II Kajian Pustaka …
Bab III Metode Penelitian …
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan …
Bab V Kesimpulan dan Saran.

Perbandingan Bab II Tesis Kualitatif vs Kuantitatif

Bab II dalam penulisan tesis pada dasarnya berfungsi untuk memberikan landasan teori dan kajian pustaka yang mendukung penelitian. Namun, antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, pendekatannya berbeda cukup signifikan.

Dalam tesis kualitatif, Bab II lebih menekankan pada kerangka konseptual. Teori-teori yang dipaparkan bukan untuk diuji kebenarannya, melainkan untuk menjadi lensa analisis dalam memahami fenomena yang diteliti. Oleh karena itu, kajian pustaka kualitatif cenderung lebih fleksibel: bisa memuat teori, konsep, hasil penelitian, bahkan perspektif lintas disiplin yang membantu memperkaya pemahaman. Teori dalam kualitatif bukanlah “pijakan final,” melainkan “alat bantu” yang bisa berkembang seiring dengan temuan lapangan.

Sebaliknya, dalam tesis kuantitatif, Bab II berfungsi sebagai kerangka teori yang sistematis untuk membangun hipotesa. Kajian pustaka diarahkan untuk menunjukkan hubungan antar variabel, mendukung definisi operasional, dan mengarahkan pada model penelitian yang akan diuji. Karena sifatnya deduktif, teori di Bab II kuantitatif harus lebih terstruktur dan spesifik, biasanya diakhiri dengan penyusunan kerangka berpikir dan perumusan hipotesa.

Dengan kata lain:

  • Kualitatif → Bab II adalah peta konseptual untuk menafsirkan data.
  • Kuantitatif → Bab II adalah fondasi teoritis untuk menguji hubungan antar variabel.
Sub-Bagian Bab IIKualitatifKuantitatif
Fungsi Bab IIMemberi kerangka konseptual dan lensa analisisuntuk memahami fenomena. Teori dipakai secara fleksibel, bisa berkembang saat analisis data.Menjadi dasar untuk menyusun kerangka teoridan hipotesa. Teori digunakan secara sistematis untuk menjelaskan hubungan antar variabel.
Sumber Literatur
Lebih terbuka: teori, konsep, hasil penelitian, dokumen historis, bahkan pengalaman yang relevan. Bisa lintas disiplin untuk memperkaya pemahaman.
Lebih ketat: fokus pada hasil penelitian terdahulu, teori-teori baku, jurnal empiris yang mendukung variabel penelitian.
Kedalaman Kajian
Menekankan pemahaman makna dan perspektif dari berbagai teori. Bisa ada ruang untuk mengkritisi dan mengadaptasi teori sesuai konteks lapangan.
Menekankan keterukuran variabel. Teori dipakai untuk membangun model penelitian yang jelas dan bisa diuji.
Kerangka Berpikir
Kadang hanya berupa kerangka konseptual(conceptual framework) → lebih longgar, sebagai peta awal.

Biasanya ada kerangka teori + kerangka berpikir (theoretical framework) → lebih ketat, menjadi dasar hipotesa.
HipotesaTidak ada hipotesa. Temuan lahir dari data.
Hipotesa sering diletakkan di akhir Bab II setelah kerangka berpikir, atau di Bab I (tergantung pedoman kampus).
Arah Analisis
Teori dipakai sebagai alat interpretasi untuk memahami data kualitatif.
Teori dipakai sebagai dasar deduktif untuk diuji melalui data kuantitatif.

Contoh Singkat – Bab II

Kualitatif

Judul: Makna Kepemimpinan Hamba bagi Pendeta Muda

  • Teori kepemimpinan hamba (Greenleaf, Sendjaya, Spears).
  • Teologi kepemimpinan berdasarkan Markus 10:42–45.
  • Studi fenomenologi kepemimpinan dalam gereja.
  • Kerangka konseptual: servant leadership dipahami sebagai lensa untuk menggali pengalaman pendeta muda.

Dalam penelitian kualitatif, Bab II berfokus pada penyajian konsep-konsep utama dan kerangka konseptual yang menjadi lensa untuk memahami fenomena. Misalnya dalam penelitian Makna Kepemimpinan Hamba bagi Pendeta Muda, teori servant leadership dari Greenleaf, Sendjaya, dan Spears dipaparkan bukan untuk diuji secara statistik, melainkan untuk dipakai sebagai kerangka berpikir dalam menggali pengalaman pendeta muda. Demikian juga, teologi kepemimpinan berdasarkan Markus 10:42–45 dan pendekatan fenomenologi digunakan untuk memperkaya interpretasi. Dengan demikian, Bab II kualitatif bersifat fleksibel, interpretatif, dan kontekstual, sehingga peneliti bebas menggabungkan perspektif teologis, sosiologis, maupun praktis untuk membaca data yang akan ditemukan.

Kuantitatif

Judul: Pengaruh Kepemimpinan Hamba terhadap Komitmen Pelayanan Jemaat

  • Teori servant leadership (dimensi: listening, empathy, stewardship, dll.).
  • Teori komitmen organisasi (afektif, normatif, keberlanjutan – Meyer & Allen).
  • Hasil penelitian terdahulu yang menguji hubungan servant leadership dengan komitmen.
  • Kerangka teori → disusun menjadi model penelitian.
  • Hipotesa ditarik: H1, H2, H3.

Sebaliknya, dalam penelitian kuantitatif, Bab II lebih sistematis dan diarahkan pada penyusunan kerangka teori dan kerangka berpikir. Misalnya dalam penelitian Pengaruh Kepemimpinan Hamba terhadap Komitmen Pelayanan Jemaat, teori servant leadership diuraikan dalam dimensi-dimensi terukur (listening, empathy, stewardship), kemudian dihubungkan dengan teori komitmen organisasi dari Meyer & Allen (afektif, normatif, keberlanjutan). Bab II juga harus memuat penelitian-penelitian terdahulu untuk memperkuat argumen. Dari kerangka teori ini, peneliti menyusun model penelitian yang jelas, lalu menarik hipotesa (H1, H2, H3) untuk diuji secara empiris. Dengan demikian, Bab II kuantitatif bersifat deduktif, terstruktur, dan terukur, karena harus mengarahkan pembaca pada hubungan antar variabel yang bisa diuji dengan data.


Penutup:

Dengan memahami perbedaan penulisan tesis kualitatif dan kuantitatif, mahasiswa pascasarjana dapat menempatkan diri secara lebih jelas dalam kerangka penelitian yang dipilih. Penelitian kualitatif memberi ruang untuk menggali makna dan proses secara mendalam, sedangkan penelitian kuantitatif menekankan pada pengukuran dan generalisasi melalui angka dan statistik. Keduanya sama-sama penting dan berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan, dengan keunikan dan kelebihan masing-masing. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah tesis bukan hanya ditentukan oleh pilihan metode, tetapi oleh konsistensi peneliti dalam menulis, kesetiaan pada data, serta ketajaman analisis yang mampu menjawab pertanyaan penelitian secara ilmiah.

Tinggalkan komentar