Diciptakan untuk Tujuan: Menemukan Identitas, Tujuan, dan Potensi Hidup

Berikut adalah artikel sistematis berdasarkan pengajaran Ps Jeffrey Rachmat, disusun dengan alur yang runtut dan mendalam:

Setiap manusia lahir dengan kebutuhan mendasar untuk menjawab tiga pertanyaan paling penting dalam hidupnya: Siapa saya? Mengapa saya ada di dunia ini? Dan apa yang bisa saya lakukan? Menjawab ketiga pertanyaan ini dengan jelas bukan hanya memberikan arah hidup, tetapi juga membawa kita kepada hidup yang penuh makna, berguna, dan memuliakan Tuhan.

1. IDENTITAS DIRI — Siapa Saya?

Identitas diri adalah fondasi dari seluruh kehidupan. Ini bukan sekadar data diri seperti nama, usia, profesi, atau latar belakang keluarga, tetapi lebih dalam lagi: identitas berbicara tentang siapa kita di mata Tuhan. Ps. Jeffrey mengajarkan bahwa identitas adalah lensacara kita melihat diri kita sendiri, dunia di sekitar kita, dan bagaimana kita menanggapi tekanan hidup. Lensa ini akan menentukan cara kita berpikir, berbicara, bertindak, dan bahkan bagaimana kita mengijinkan orang lain memperlakukan kita.

Ketika identitas kita dibentuk oleh dunia, kita hidup dalam kebingungan, ketakutan, dan performa. Tetapi ketika identitas kita ditanamkan dalam kebenaran Firman Tuhan, kita hidup dalam keberanian, keteguhan, dan tujuan yang pasti.

Roma 12:1 (MSG) Take your everyday, ordinary life—your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life—and place it before God as an offering.

Ayat ini menegaskan bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri. Identitas kita yang sejati hanya ditemukan ketika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kita adalah milik-Nya, dan dari sinilah harga diri yang sejati berasal.

Ciri-Ciri Identitas Sehat dalam Kristus

  1. Berakar pada Kebenaran, bukan Performa“Kalau identitasmu didasarkan pada performa, maka saat kamu gagal, kamu merasa kehilangan harga dirimu.”
    Dunia menilai dari pencapaian, Tuhan menilai dari hubungan. Anak Tuhan berharga bukan karena hasilnya, tapi karena hubungannya dengan Sang Bapa.
  2. Tahu Diri = Tahu Batas“Orang yang tahu siapa dirinya akan tahu apa yang harus dia lakukan—dan apa yang tidak harus dia lakukan.”
    Orang yang punya identitas jelas tidak mudah tergoda untuk ikut-ikutan. Ia bisa berkata “tidak” pada hal yang baik demi hal yang benar.
  3. Identitas Melahirkan Keteguhan
    Saat badai datang—masalah, penolakan, tekanan—identitas yang kuat menjadi jangkar. Kita tidak goyah karena tahu bahwa keberhargaan kita tidak tergantung pada kondisi, melainkan pada posisi kita di dalam Kristus.

Dampak Jika Tidak Tahu Identitas:

  • Mudah Menjadi Apa yang Orang Lain Katakan.
    Seperti Esau yang menjual hak kesulungannya karena lapar, banyak orang menjual panggilannya hanya demi penerimaan sesaat.
  • Terjebak dalam Perbandingan.
    Ketika tidak yakin siapa diri kita, kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Hasilnya: iri hati, rendah diri, atau sombong.
  • Rentan Terbakar oleh Ekspektasi.
    Orang yang tidak punya identitas akan mudah lelah karena terus mencoba menjadi seseorang yang bukan dirinya.

“Kalau kita tidak tahu siapa kita, kita akan jadi seperti bunglon—berubah-ubah menyesuaikan lingkungan, bukan hidup dari keyakinan.”

Ketika kita hidup dari identitas yang benar, kita akan memiliki kepercayaan diri yang sehat, keteguhan di tengah badai, dan kekuatan untuk menggenapi panggilan Tuhan atas hidup kita. Jangan biarkan dunia mendefinisikan siapa Anda. Biarkan Firman Tuhan membentuk lensa Anda.


2. TUJUAN — Mengapa Saya Ada di Dunia Ini?

Salah satu tragedi terbesar dalam hidup adalah memiliki semua potensi, tetapi tidak pernah tahu untuk apa itu semua diberikan. Banyak orang bekerja keras, berlari cepat, bahkan berprestasi tinggi—namun merasa kosong. Mengapa? Karena mereka belum menemukan purpose, atau tujuan hidup yang sejati.

“Kita tidak menciptakan tujuan hidup kita. Kita menemukan tujuan hidup kita di dalam Tuhan.” – Ps Jeffrey Rachmat

Wahyu 4:11 (KJV) Thou art worthy, O Lord, to receive glory and honour and power: for thou hast created all things, and for Thy pleasure they are and were created.

Kita diciptakan untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan untuk tujuan pribadi atau ambisi egois. Seluruh ciptaan, termasuk manusia, diciptakan untuk membawa kemuliaan bagi Sang Pencipta.

Tujuan hidup adalah alasan mengapa kita ada. Tanpa tujuan, hidup terasa kosong. Seperti produk tanpa fungsi, kita akan kehilangan nilai jika tidak menghidupi tujuan ilahi.

Tujuan Menentukan Kepenuhan Hidup

Tujuan hidup adalah alasan mengapa kita ada. Tanpa tujuan, hidup terasa kosong.  Tanpa purpose, seseorang bisa aktif, sibuk, bahkan sukses secara duniawi—namun tetap merasa tidak puas. Mengapa? Karena ada kehampaan spiritual yang tidak bisa diisi oleh uang, posisi, atau popularitas.

“Orang yang tidak menemukan tujuannya, akan cenderung menyalahgunakan kekuatannya.” — Ps. Jeffrey Rachmat

Abuse = abnormal use — menggunakan sesuatu bukan untuk tujuan aslinya. Sama seperti pisau dapur digunakan untuk hal yang berbahaya, hidup yang tanpa tujuan mudah disalahgunakan untuk hal yang merusak: kecanduan, kesombongan, kesia-siaan.

Contoh praktis:

  • Barang elektronik diciptakan untuk menyelesaikan masalah: blender untuk menghancurkan makanan, AC untuk mendinginkan ruangan. Ketika digunakan sesuai desain, hasilnya maksimal. Tapi jika digunakan secara salah, bisa rusak bahkan membahayakan.
  • Brand ternama tetap eksis karena mereka menghasilkan produk yang berguna. Jika suatu brand kehilangan manfaatnya, orang akan berhenti menggunakannya. Sama halnya dengan manusia—kehidupan yang tidak lagi memberi manfaat kehilangan relevansi di tengah masyarakat.

Tujuan = Menjawab Kebutuhan

Demikian juga manusia. Kita diciptakan untuk berguna, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk memenuhi kebutuhan sesama dan memuliakan Tuhan. Ketika hidup kita menyelesaikan masalah orang lain, kita hidup dalam purpose.

Hidup kita bukan hanya tentang “apa yang kita dapatkan,” tetapi “masalah apa yang bisa kita selesaikan.” Tujuan kita ditemukan saat kita mulai menyadari: Siapa yang Tuhan ingin saya layani? Masalah siapa yang Tuhan ingin saya bantu selesaikan?

Amsal 19:3: Orang merusak dirinya karena kebodohan sendiri, tetapi menyalahkan Tuhan. Ini menggambarkan banyak orang yang hidup di luar tujuan dan frustrasi, tetapi tidak menyadari bahwa mereka belum menemukan panggilan hidupnya.

Tiga Kesalahan Umum Tentang Tujuan:

  1. Mengira Tujuan Harus Spektakuler.
    Padahal tujuan bisa sederhana namun berdampak: menjadi ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anak yang takut akan Tuhan adalah purpose yang luar biasa.
  2. Menunggu Panggilan yang Dramatis.
    Banyak orang tidak bergerak karena menunggu suara dari langit. Padahal panggilan hidup seringkali ditemukan dalam ketaatan sehari-hari dan pelayanan yang konsisten.
  3. Mengira Tujuan = Pekerjaan.
    Tujuan lebih besar dari profesi. Seorang guru, pengusaha, atau sopir bisa hidup dalam purpose jika melihat pekerjaannya sebagai cara melayani Tuhan dan sesama.

“Semakin muda kita menemukan tujuan hidup, semakin cepat kita menjadi berguna.” — Ps. Jeffrey Rachmat

Hidup yang berjalan tanpa tujuan adalah hidup yang hanya menunda potensi. Temukanlah tujuan Anda di dalam Tuhan, dan mulailah menjalani hidup yang penuh makna. Dunia sedang menunggu kontribusi Anda—dan Tuhan sedang menanti Anda untuk hidup seturut kehendak-Nya.


3. POTENSI — Apa yang Bisa Saya Lakukan?

Setiap manusia lahir dengan potensi ilahi. Tuhan tidak menciptakan seseorang tanpa kapasitas untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Potensi bukan hanya soal kemampuan teknis atau keahlian profesional, tetapi juga mencakup bakat alami, karunia rohani, pengalaman hidup, kepribadian, dan beban hati yang Tuhan tempatkan di dalam diri kita.

Namun, potensi hanya akan berdampak bila ditemukan, dikembangkan, dan digunakan untuk tujuan Tuhan. Ps. Jeffrey mengingatkan bahwa potensi yang tidak ditemukan akan melahirkan frustrasi, dan potensi yang disalahgunakan akan menjadi alat kehancuran.

“Potensi adalah kekuatan yang diberikan Tuhan untuk menjawab kebutuhan dunia.” – Ps Jeffrey Rachmat

Potensi adalah kapasitas ilahi dalam diri kita: bakat, talenta, karunia, bahkan pengalaman hidup yang dipakai Tuhan untuk tujuan-Nya. Menemukan potensi dan mengasahnya akan membawa kepada prestasi. Sebaliknya, potensi yang tidak ditemukan akan melahirkan frustrasi.

Ulangan 8:18: “Dialah yang memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah sumber kekuatan—bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi untuk menghasilkan dampak. Kata “kekuatan” di sini bisa diterjemahkan sebagai kapasitas, kreativitas, ide, stamina, dan kecakapan yang berasal dari Tuhan. Semua ini adalah bagian dari potensi ilahi.

Potensi = Titik Pertemuan Antara Kekuatan dan Kebutuhan

“Uang adalah penghargaan atas jasa. Ketika kekuatanmu bertemu dengan kebutuhan orang, di situlah potensi menjadi purpose.” — Ps. Jeffrey Rachmat

Dalam kehidupan praktis, potensi bukan sekadar sesuatu yang “kita miliki,” melainkan sesuatu yang kita gunakan untuk menjawab kebutuhan orang lain. Ketika kita menyadari kekuatan yang Tuhan sudah percayakan dan memakainya untuk menjadi solusi bagi orang lain, maka kita sedang menggenapi panggilan hidup kita.

Misalnya:

  • Seorang guru yang memahami bahwa potensi mengajarnya bukan hanya untuk mendapat gaji, tetapi untuk membentuk generasi.
  • Seorang pebisnis yang sadar bahwa keahlian mengelola keuangan bisa dipakai untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan memberkati komunitas.
  • Seorang ibu rumah tangga yang memahami bahwa kesabaran dan ketelatenannya adalah alat untuk membangun keluarga yang sehat secara rohani dan emosional.

Kolose 3:23–24: Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan.

Ayat ini menekankan bahwa pekerjaan bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bentuk ibadah. Dalam pandangan Ps. Jeffrey, ini berarti potensi kita adalah alat ibadah—ketika kita bekerja dengan segenap hati, kita sedang menyembah Tuhan.

Ken Costa: “My workstation is my worship station.”
Kalimat ini menegaskan bahwa tempat kerja adalah tempat penyembahan. Kantor, dapur, studio, sekolah, pasar—semua bisa menjadi altar jika kita menggunakan potensi kita untuk melayani Tuhan dan orang lain.

Jika Potensi Tidak Diasah:

  1. Terjadi Stagnasi.
    Potensi yang tidak dilatih akan melemah. Seperti alat yang tidak pernah digunakan, kekuatan kita akan tumpul jika tidak diasah melalui kerja keras dan disiplin.
  2. Rasa Tidak Puas dan Frustrasi.
    Banyak orang merasa “hidupnya mandek” bukan karena tidak punya kesempatan, tetapi karena tidak pernah sungguh-sungguh menggali potensi yang sudah diberikan Tuhan.
  3. Mudah Iri dan Membandingkan Diri.
    Orang yang tidak menghargai potensinya sendiri akan cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, merasa kalah dan kehilangan arah.

Yohanes 15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.

Tanda dari hidup yang memenuhi tujuan adalah buahhasil dari pelayanan, pekerjaan, dan kontribusi kepada sesama.  Namun, seperti pohon yang berbuah harus siap menanggung beban, begitu pula kita harus rela menghadapi tanggung jawab yang datang bersama pertumbuhan. Banyak orang ingin berbuah, tapi tidak mau menanggung beban.

BEARING FRUIT — Hidup yang Berbuah = Hidup yang Menanggung Beban

“Banyak orang ingin berbuah, tapi tidak mau menanggung beban. Kita tidak bisa punya yang satu tanpa yang lain.” – Ps Jeffrey Rachmat

Yohanes 15:8: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak…”

Buah dan Beban Tidak Dapat Dipisahkan

  • Pohon yang berbuah akan mengalami beban cabang—semakin besar buahnya, semakin besar tanggung jawabnya untuk menopang buah itu.
  • Kursi hanya berguna jika bersedia menanggung beban. Jika kursi tidak bisa dipakai untuk duduk, maka keberadaannya menjadi sia-sia—fungsinya gagal dipenuhi.

Begitu juga dengan hidup manusia. Nilai sebuah kehidupan tidak diukur dari seberapa banyak yang dia punya, tetapi seberapa banyak yang dia sanggupi untuk ditanggung demi orang lain. Inilah makna dari hidup berbuah: memberikan manfaat dengan rela menanggung beban yang datang bersama panggilan itu.

Beban Bukan Kutuk, Tapi Konfirmasi

Sering kali kita salah mengerti beban sebagai sesuatu yang buruk atau hukuman. Padahal, beban adalah tanda bahwa kita dipercaya Tuhan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih. Beban datang bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan otot rohani dan memperbesar kapasitas.

“Kalau kamu merasa terbeban, mungkin itu tanda bahwa kamu sedang ada di jalur yang benar.” — Ps. Jeffrey Rachmat

2 Korintus 4:17 “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya.”

Beban saat ini adalah bagian dari proses pembentukan menuju buah yang kekal.

Mengapa Banyak Orang Menolak Beban?

  1. Ingin hasil instan tanpa proses.
    Mereka ingin sukses, tapi tidak mau bertanggung jawab. Ingin pelayanan besar, tapi tidak mau mengasihi dalam hal kecil.
  2. Tidak paham makna beban dalam terang tujuan.
    Ps. Jeffrey mengajarkan: “Kalau kamu tidak mengerti purpose, kamu akan komplain terhadap beban.” Tetapi kalau kamu mengerti tujuan hidupmu, kamu akan rela memikul beban karena kamu tahu beban itu berarti.
  3. Takut lelah dan dikritik.
    Tetapi buah tidak tumbuh di tanah yang steril. Buah tumbuh di tanah yang diinjak, disirami air mata, dan diberi pupuk tantangan.

Hidup yang berbuah adalah hidup yang bersedia menanggung beban. Sama seperti Yesus memikul salib untuk menghasilkan keselamatan bagi banyak orang, kita pun dipanggil untuk memikul beban dalam panggilan kita agar dunia mengenal kasih Tuhan. Jangan takut beban—justru di situlah buah akan muncul.

Jika kita tidak mengerti konsep beban, kita akan mudah mengeluh. Tetapi ketika kita memahami bahwa beban adalah bagian dari panggilan, kita akan rela menanggung lebih banyak demi menghasilkan lebih banyak.

Closing Statement: Hidup Maksimal dalam Desain Ilahi

Hidup yang bermakna bukan hasil kebetulan, tetapi hasil penemuan dan ketaatan terhadap desain Tuhan atas hidup kita. Ketika kita tahu siapa kita (identitas), mengapa kita ada (tujuan), dan apa yang bisa kita lakukan (potensi), maka kita akan siap untuk berbuah dan menanggung beban dengan sukacita. Inilah hidup yang menyenangkan hati Tuhan dan memberkati dunia.

Tuhan menciptakan Anda bukan secara sembarangan. Anda adalah karya yang disengaja, dengan kekuatan unik dan tujuan spesifik. Jangan habiskan hidup mengejar pengakuan dunia, sementara Anda mengabaikan panggilan surgawi Anda. Dunia tidak sedang menunggu orang sempurna—dunia sedang menunggu orang yang bersedia dipakai Tuhan.

“The meaning of life is to discover your gift. The purpose of life is to give it away.” — Ps. Jeffrey Rachmat (parafrase)

Temukan identitas Anda di dalam Kristus. Jalani tujuan Anda dengan iman. Latih potensi Anda dengan setia. Dan tanggung beban Anda dengan sukacita. Maka hidup Anda akan berbuah banyak dan memuliakan Tuhan.

Hidup bukan tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang kontribusi yang membawa kemuliaan bagi Tuhan. Semakin cepat kita menemukan tujuan, semakin cepat hidup kita menjadi berguna.


Tinggalkan komentar