Di tengah dunia yang terus bergerak cepat—dengan budaya yang berubah, nilai yang bergeser, dan informasi yang membanjiri jemaat setiap hari—gereja ditantang untuk terus menyuarakan kebenaran. Namun suara gereja hanya memiliki kuasa sejati jika bersumber dari Firman Tuhan. Karena itu, panggilan utama pengkhotbah bukanlah menjadi orator yang menghibur, melainkan penatalayan kebenaran yang menyampaikan suara Tuhan kepada umat-Nya.
Panduan ini disusun untuk menolong para pengkhotbah, guru, dan pemimpin rohani agar menyusun kotbah yang alkitabiah—yaitu setia pada maksud teks, dan relevan—yaitu menjawab kebutuhan, pertanyaan, dan pergumulan nyata jemaat masa kini. Ketika dua elemen ini berpadu—kesetiaan pada teks dan kepekaan terhadap konteks—terjadi transformasi yang sejati: jemaat bukan hanya belajar tentang Firman, tetapi mengalami kuasanya dalam kehidupan.
“Kotbah yang baik bukan hanya benar, tetapi juga berbicara. Firman Allah tidak hanya perlu dijelaskan, tetapi harus dihidupkan dalam konteks umat.”
1. Tentukan: Kotbah Eksposisi atau Topikal (dengan Pendekatan Eksposisional)
- Kotbah Eksposisi:
Merupakan bentuk kotbah yang menggali satu perikop Alkitab secara mendalam sesuai urutan dan maksud asli penulis.
Fokus: Biarkan struktur dan isi kotbah ditentukan oleh teks itu sendiri. Ini membantu jemaat memahami Alkitab secara utuh dan mendalam. - Kotbah Topikal (Bertema):
Adalah kotbah yang berangkat dari satu tema besar (misalnya: pengampunan, iman, panggilan) dan didukung oleh beberapa ayat dari berbagai bagian Alkitab.
Namun, tetaplah gunakan pendekatan eksposisional saat menjelaskan setiap ayat: artinya, tetap lakukan exegesis, lihat konteks asli, dan jangan cabut ayat dari maknanya. - Prinsip Utama: Let the Bible speak
Apa pun jenis kotbah yang dipilih, teks Alkitab harus menjadi otoritas utama, bukan sekadar pendukung ide pribadi. Jangan gunakan Alkitab sebagai ilustrasi dari pendapat kita; gunakan pendapat kita untuk menjelaskan Alkitab.
“Topical preaching isn’t wrong—but topical preaching that lacks exegesis leads to error. Expositional thinking must undergird all faithful preaching.” – Mark Dever
Kotbah Eksposisi:
- Pilih Perikop, Bukan Ayat Lepas
Jangan mencuplik satu ayat dan membangun ide di luar konteks. Pilihlah bagian yang utuh dan jelas struktur pemikirannya. - Gali Makna Asli, Bukan Cari Pembenaran Ide
Pengkhotbah bukan pencipta pesan, melainkan penyampai kebenaran yang sudah ada. Eksposisi menuntut kita tunduk pada maksud teks. - Struktur Kotbah Menurut Teks
Bukan hanya isi kotbah yang berdasarkan Alkitab, tetapi susunan pikirannya pun dibentuk oleh alur teks. Misalnya: jika teks berisi seruan, teguran, dan janji, maka kotbah pun mengikuti urutan itu. - Prinsip: Let the Text Talk
Jangan bawa ide pribadi ke dalam teks, tetapi bawa jemaat masuk ke dalam maksud teks.
Langkah-Langkah Menyusun Kotbah Topikal (Bertema) yang Alkitabiah dan Relevan
Kotbah topikal sering dipilih karena memungkinkan pengkhotbah menjawab secara langsung isu-isu penting dalam kehidupan jemaat, seperti hubungan, kekhawatiran, pekerjaan, keluarga, atau panggilan hidup. Namun, kotbah topikal yang alkitabiah bukan berarti mengumpulkan ayat untuk membenarkan opini pribadi, tetapi menyusun kebenaran teologis dari berbagai bagian Alkitab yang saling mendukung dan menyatu dalam terang Injil.
1. Tentukan Tema yang Jelas, Terfokus, dan Teologis
- Pilih tema yang lahir dari kebutuhan jemaat, bukan sekadar tren populer. Tema harus menyentuh realitas hidup, namun tetap berakar dalam narasi besar Alkitab: penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan pemulihan.
Tujuan tema: bukan hanya menyentuh kebutuhan jemaat, tetapi juga membawa mereka lebih dekat pada Kristus dan kehendak-Nya.
2. Rancang Pertanyaan Kunci sebagai Fokus Kotbah
- Sebuah kotbah topikal harus berangkat dari tensi atau pertanyaan utama yang relevan dan rohani.
- Ajukan pertanyaan seperti:
- Apa krisis rohani yang sedang terjadi terkait tema ini?
- Apa yang menjadi kebingungan, luka, atau tantangan yang dihadapi jemaat dalam hal ini?
- Apa yang dunia katakan tentang tema ini, dan apa kata Tuhan?
- Contoh fokus pertanyaan:
- “Mengapa sulit mengampuni, dan bagaimana Injil memberi kekuatan untuk itu?”
- “Bagaimana kita bisa hidup dalam identitas yang teguh di tengah budaya yang selalu membandingkan?”
Kotbah yang kuat selalu menjawab pergumulan nyata dengan kebenaran kekal.
3. Telusuri Ayat-Ayat yang Menyuarakan Tema Tersebut
- Gunakan konkordansi Alkitab, perangkat digital (seperti Logos, Blue Letter Bible, atau BibleHub), dan pengetahuan sistematika untuk mengidentifikasi teks-teks utama (core texts) yang menjadi fondasi tema tersebut.
- Pastikan ayat-ayat tersebut:
- Konteksnya jelas
- Relevan secara teologis
- Saling mendukung (jangan memaksakan harmoni jika ada ketegangan teologis)
- Jangan hanya memilih ayat karena cocok dengan ide, tetapi karena teks memang menyuarakan kebenaran tema itu secara utuh dan sahih.
Alkitab tidak bertentangan dalam prinsip, tetapi setiap bagian punya penekanan konteks yang perlu dihargai.
4. Lakukan Exegesis yang Jujur dan Mendalam untuk Tiap Ayat
- Meskipun kotbah bertema, setiap ayat harus dikhotbahkan secara eksposisional—yaitu dijelaskan sesuai konteksnya, bukan dipotong untuk mendukung ide.
- Hal-hal penting dalam exegesis:
- Konteks literer: Apa yang dikatakan ayat sebelum dan sesudahnya?
- Konteks sejarah dan budaya: Apa yang sedang terjadi saat itu? Siapa yang dituju?
- Maksud penulis: Apa yang ingin disampaikan secara keseluruhan?
- Word study: Apakah ada kata kunci yang penting untuk dipahami dari bahasa asli?
- Contoh salah:
Mengutip Yeremia 29:11 sebagai janji kesuksesan pribadi tanpa menyebut konteks pembuangan Babel. - Contoh benar:
Menjelaskan Yeremia 29:11 sebagai janji pengharapan Allah di tengah penderitaan dan masa tunggu, sebagai gambaran bahwa Allah tetap setia walau umat-Nya belum melihat pemulihan secara langsung.
Setiap ayat adalah bagian dari satu cerita besar tentang karya penebusan Allah. Hormatilah cerita itu dengan jujur
5. Bangun Struktur Kotbah yang Logis, Terarah, dan Bertumbuh
- Jangan hanya mengumpulkan ayat—susun alur pikir yang jelas agar jemaat bisa mengikuti dan merenungkan dengan utuh.
- Gunakan pendekatan:
- Tiga poin utama (definisi, tantangan, solusi)
- Urutan tanya jawab (Apa? Mengapa? Bagaimana?)
- Naratif teologis (mulai dari kejatuhan, lalu penebusan, hingga transformasi)
- Contoh struktur (tema: pengampunan):
- Apa itu pengampunan sejati menurut Alkitab?
- Mengapa manusia kesulitan mengampuni (akar dosa, luka, keadilan)?
- Bagaimana Injil membebaskan dan memampukan kita mengampuni?
- Akhiri dengan kesimpulan yang kuat dan pengantar aplikasi.
Struktur kotbah seperti jembatan: harus kokoh agar jemaat bisa menyeberang dari pemahaman ke transformasi.
2. Gunakan Alat Bantu Penafsiran: menggali Lebih Dalam
Exegesis — “Mengeluarkan makna dari dalam teks”
- Konteks Historis dan Sosial
Apa yang sedang terjadi pada zaman itu? Misalnya: tekanan politik, krisis moral, perjanjian Allah dengan umat-Nya, dst. - Penulis dan Audiens Asli
Siapa yang menulis? Kepada siapa? Apa masalah yang sedang mereka hadapi? Apa tujuan penulisan teks itu? - Struktur Literer dan Gaya Bahasa
Apakah ini narasi, puisi, nubuat, atau surat? Pola-pola seperti paralelisme, chiasmus, atau klimaks sering menyimpan pesan penting.
Word Study — “Temukan Kedalaman dari Satu Kata”
- Pilih 1–2 kata kunci yang teologis dan penting (misal: grace, faith, hesed, agape, dikaiosune).
- Telusuri arti dalam bahasa asli dan penggunaannya dalam kitab lain.
- Temukan makna teologis yang memperkaya pesan.
Historical Background — “Masuki Dunia Alkitab”
- Apa yang terjadi secara nasional, politis, atau budaya saat teks ditulis?
- Misal: latar belakang kerajaan Israel, pembuangan ke Babel, atau penganiayaan jemaat mula-mula.
“A text without context becomes a pretext.” – D.A. Carson
Compare Bible Versions – Bandingkan Versi Alkitab
Bacalah bagian Alkitab dalam beberapa terjemahan yang berbeda (misalnya: LAI-TB, BIS, FAYH, ESV, NIV, NLT, NKJV) untuk melihat nuansa makna dan pilihan kata yang beragam.
- Mengapa penting?
Karena setiap terjemahan menampilkan aspek bahasa asli yang berbeda-beda. Beberapa lebih harfiah (literal), sementara yang lain lebih dinamis atau komunikatif.
Contoh:- Dalam ESV atau NKJV, struktur kalimat biasanya mempertahankan bentuk asli bahasa Ibrani/Yunani.
- Dalam NLT atau FAYH, pesan diungkapkan dengan bahasa yang mudah dimengerti, sering kali menyentuh aspek emosional atau aplikatif.
- Tujuannya bukan membingungkan, tetapi memperkaya. Melalui perbandingan ini, kita bisa menangkap lapisan makna yang lebih dalam dan memilih ekspresi yang paling jelas dan tepat bagi jemaat.
“Melihat satu ayat dari berbagai terjemahan ibarat memandang berlian dari sudut yang berbeda—makin lengkap keindahannya.”
Cross-References – Gunakan Ayat Silang: Alkitab Menafsirkan Alkitab
Gunakan ayat-ayat lain dalam Alkitab untuk menjelaskan dan memperkuat pemahaman terhadap teks utama. Ini adalah prinsip klasik dalam teologi: Scriptura Scripturae interpres — “Alkitab menafsirkan Alkitab.”
- Mengapa ini penting?
Karena Alkitab memiliki satu Penulis utama, yaitu Roh Kudus. Maka benang merahnya konsisten, dan tema-tema besar seperti kasih karunia, iman, kebenaran, pengampunan, kerajaan Allah, selalu saling melengkapi di seluruh kitab. - Contoh penerapan:
Jika Anda berkhotbah dari Roma 5 tentang “dibenarkan karena iman,” Anda bisa merujuk pada Kejadian 15:6 (Abraham dibenarkan karena percaya) dan Yakobus 2:22 (iman menghasilkan perbuatan) untuk menyeimbangkan pemahaman secara menyeluruh. - Alat bantu:
Gunakan cross-reference system dalam Alkitab cetak (seperti Thompson Chain-Reference) atau digital (YouVersion, Bible Gateway, Logos).
“Satu bagian Alkitab dapat membuka cahaya baru bagi bagian lain. Semakin kita menyatukan ayat-ayat, semakin terang maksud Allah bagi umat-Nya.”
3. AJUKAN PERTANYAAN YANG MENJEMBATANI JARAK ANTARA BUDAYA DAN KITAB SUCI
“Kita harus mendengarkan Firman Allah dengan satu telinga, dan mendengarkan dunia dengan telinga yang lain.” – John Stott
Agar pesan menjadi relevan, libatkan pola pikir dunia—bukan untuk menyesuaikan diri dengannya, tetapi untuk menunjukkan keunggulan kebenaran Firman Tuhan:
- Apa yang dunia katakan atau tawarkan tentang topik ini?
Bandingkan cara dunia memandang topik tersebut dengan cara pandang Alkitab.
Apakah dunia menawarkan solusi yang cepat namun dangkal? Apakah ada filosofi populer yang mengesampingkan kebenaran? Contoh: Dunia berkata “pembalasan adalah kekuatan,” tetapi Kerajaan Allah berkata “pengampunan adalah kemenangan.” - Apa yang sering diasumsikan banyak orang—termasuk orang percaya—yang terdengar benar, tetapi sebenarnya keliru?
Identifikasi miskonsepsi umum, baik dari budaya, ajaran populer, atau bahkan dari jemaat sendiri.
Contoh: Banyak orang mengira pengampunan berarti melupakan luka, padahal Alkitab menunjukkan bahwa pengampunan adalah keputusan, bukan perasaan. “Kalau Tuhan mengasihiku, hidupku pasti lancar.” Ini terdengar manis, tapi tidak sesuai dengan Injil salib. - Apa kebenaran Alkitab yang menantang atau membetulkan pandangan tersebut?
Khotbah bukan hanya menghibur, tetapi menegur dan membangun dengan kasih dan kebenaran. - Apa bahayanya jika orang lebih mempercayai versi dunia dibandingkan kebenaran Alkitab?
Kesesatan tidak selalu terdengar buruk—justru seringkali terdengar meyakinkan. Di sinilah suara nubuatan dibutuhkan. - Apa yang tidak dikatakan oleh kebenaran ini?
Berikan kejelasan agar jemaat tidak salah paham.
Misalnya: Mengampuni bukan berarti membiarkan ketidakadilan tanpa keadilan ilahi. - Adakah hukum alam atau prinsip hidup yang sejajar dengan kebenaran rohani ini?
Contoh: benih yang mati untuk menghasilkan buah → paralel dengan pengorbanan Kristus dan hidup baru kita. - Gunakan contoh dari alam, logika, atau pengalaman sehari-hari untuk menggambarkan realitas rohani.
Tuhan menyatakan kebenaran-Nya bukan hanya lewat Alkitab, tetapi juga melalui ciptaan-Nya (Mazmur 19; Roma 1:20).
4. Apa yang Dikatakan tentang Yesus? – Kristosentris!
- Lihat Bayangan Kristus dalam PL, Terang Kristus dalam PB
Contoh: Yusuf sebagai bayangan Yesus yang diangkat dari penjara ke istana (Kej. 41 dan Flp. 2). - Apa yang Diungkapkan tentang Yesus?
Bagaimana Kristus Menggenapi atau Menjadi Jawaban dari Tema Ini?
Ujung dari setiap kotbah bukanlah perubahan perilaku, tetapi pengenalan yang lebih dalam akan Yesus dan kebergantungan kepada-Nya.
Contoh: Yesus tidak hanya mengajar tentang pengampunan, tetapi juga membayar harga untuk memberi kita kuasa mengampuni. - Sambungkan dengan Narasi Injil
Jangan paksa Yesus masuk, tetapi lihat benang merah penebusan: penciptaan, kejatuhan, penebusan, pemulihan. - Fokus: Kristus sebagai pusat pengharapan dan transformasi
Jemaat perlu pulang bukan hanya tahu apa yang harus mereka lakukan, tapi siapa yang bisa menolong mereka – Yesus!
5. BERKOTBAHLAH KEPADA ORANG NYATA DENGAN PERGUMULAN NYATA
“Kotbah bukanlah berbicara kepada orang tentang Alkitab; kotbah adalah berbicara kepada orang tentang diri mereka sendiri dari Alkitab.” – Rick Warren
Jangan hanya mengajarkan kebenaran—hubungkanlah kebenaran itu dengan kehidupan.
- Kenali audiens Anda.
Pahami usia, konteks hidup, dan pergumulan yang mereka hadapi. Pelajar, mahasiswa, orang tua muda, pekerja, dan lansia memiliki dunia nyata yang berbeda. - Gunakan contoh kehidupan nyata.
Terapkan kebenaran Firman ke dalam situasi yang dihadapi jemaat: di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dalam hubungan, keuangan, konflik, dan pencarian makna hidup. - Kotbahlah dengan empati.
Berbicaralah bukan hanya dengan otoritas, tetapi juga dengan pengertian dan kasih. Suara kasih membuka hati lebih dalam daripada suara keras yang penuh penilaian. - Panggil jemaat untuk merespons.
Jangan hanya memberikan informasi—undanglah transformasi. Tanyakan:
“Apa yang Tuhan ingin kita lakukan dengan kebenaran ini hari ini?”
Kotbah yang menyentuh hati akan membangkitkan iman, pertobatan, dan ketaatan sejati.
“Manusia bukan sedang mencari kebenaran. Mereka sedang mencari kebahagiaan. Maka tugas kita adalah menunjukkan bahwa kebenaran Allahlah yang membawa pada sukacita sejati.” – Andy Stanley
6. BERGERAKLAH DARI PENJELASAN MENUJU APLIKASI
Kebenaran harus membawa pada transformasi.
- Jawab pertanyaan: “Lalu apa?”
Apa arti kebenaran ini bagi kehidupan sehari-hari? Jika tidak dijawab, kotbah hanya menjadi informasi tanpa dampak. - Berikan langkah konkret yang bisa dilakukan.
Apakah itu mengampuni seseorang, melangkah dengan iman, mengatur ulang prioritas, atau memperbaiki relasi—buatlah aplikasi yang jelas, sederhana, dan praktis. - Sampaikan kepada berbagai peran kehidupan.
Tunjukkan bagaimana pesan ini relevan bagi lajang, orang tua, pekerja, mahasiswa, pelajar, pemimpin, dan anggota gereja biasa. - Gunakan kalimat yang mudah diingat.
Pernyataan singkat yang kuat akan menempel dalam pikiran jemaat dan membantu mereka menghidupi pesan.
Contoh: “Pengampunan bukan beban, tapi jalan bebas.”
Atau: “Anugerah bukan alasan untuk diam, tapi kekuatan untuk berubah.” - Terapkan ke dalam dan ke luar.
Beberapa kebenaran mengubah hati dan pola pikir, yang lain menuntut tindakan dan ketaatan. Jangan hanya mengubah informasi—bawalah jemaat pada pertobatan dan gaya hidup baru.
Penjelasan memberi pengertian. Aplikasi membawa perubahan. Tujuan kita bukan hanya didengar—tetapi dihidupi.
“Orang lebih tertarik pada apa yang berhasil daripada apa yang benar. Tapi jika Anda bisa menunjukkan bahwa kebenaran itu berhasil, mereka akan peduli pada keduanya.” – Andy Stanley
7. Perkaya dengan Ilustrasi, Humor yang Bijak, dan Kutipan yang Menguatkan
Kotbah yang alkitabiah dan relevan tidak harus kering dan monoton. Jika digunakan dengan bijak, ilustrasi, humor, dan kutipan dapat menjadi jembatan antara teks dan kehidupan nyata. Mereka membantu jemaat memahami, mengingat, dan merespons kebenaran Firman dengan lebih mendalam.
Ilustrasi yang Menyentuh dan Relevan
- Ilustrasi membuka jalan bagi pengertian. Sebagaimana Yesus mengajar dengan perumpamaan, kita pun dapat menyampaikan kebenaran lewat kisah nyata, pengalaman pribadi, tokoh sejarah, atau fenomena budaya.
- Ciri ilustrasi yang baik:
- Relevan dengan pesan utama.
- Emosional, tetapi tidak manipulatif.
- Konkret dan kontekstual, bukan terlalu abstrak.
- Membantu menjelaskan, bukan mengalihkan perhatian.
Contoh: Dalam kotbah tentang “iman di tengah penderitaan,” ilustrasi tentang seorang murid yang tetap menyembah Tuhan walau kehilangan orang tua bisa menjadi pintu masuk yang kuat.
Gunakan Humor yang Bijak dan Membangun
- Humor bukan untuk menghibur kosong, tetapi mencairkan suasana dan menghubungkan hati jemaat dengan pengkhotbah.
- Batasan penting dalam menggunakan humor:
- Jangan mempermalukan siapa pun.
- Jangan menyentuh isu sensitif atau menyindir kelompok tertentu.
- Hindari lawakan kosong atau kasar yang melemahkan wibawa Firman.
- Gunakan humor reflektif, bukan sarkasme.
“Tawa yang sehat membuka hati bagi kebenaran yang dalam.”
Gunakan Kutipan dari Tokoh Kristen atau Pemikir Besar
- Kutipan dapat menambahkan bobot dan kebijaksanaan pada kotbah. Terutama ketika digunakan untuk menegaskan poin yang telah dijelaskan secara alkitabiah.
- Sumber kutipan bisa dari:
- Tokoh Alkitab (Paulus, Petrus, Amsal, Mazmur)
- Bapak-bapak gereja (Agustinus, Athanasius)
- Reformator dan teolog (Luther, Calvin, Spurgeon, Wesley)
- Pemimpin Kristen masa kini (Tim Keller, John Stott, N. T. Wright, C.S. Lewis, Eugene Peterson, dll.)
- Contoh penggunaan:
- Saat berbicara tentang kasih karunia:“Kasih karunia bukanlah izin untuk berdosa, tetapi kuasa untuk hidup benar.” – D.L. Moody
Prinsip: Ilustrasi membuat pesan terlihat. Humor membuka hati. Kutipan memberi kedalaman.
Tips Tambahan: Beritakan dari Sisi Positif Injil – Sisi Anugerah
Selalu Khotbahkan dari Sisi Anugerah, Bukan Ketakutan atau Rasa Bersalah Semata
Injil bukan berita tentang apa yang harus kita lakukan agar Tuhan menerima kita, tetapi tentang apa yang sudah Kristus lakukan agar kita bisa menerima kasih karunia-Nya.
- Jangan membangun motivasi jemaat lewat rasa bersalah, ancaman, atau rasa takut yang tidak sehat.
- Tujuan kotbah bukan membuat jemaat putus asa karena dosanya, tapi berharap karena salib.
- Teguran boleh tegas, tetapi ujungnya harus selalu mengarah kepada pengharapan di dalam Kristus.
“Tugas kita bukan sekadar membuat jemaat sadar bahwa mereka berdosa, tetapi membawa mereka kepada Juruselamat yang penuh kasih dan cukup.”
- Rasa bersalah tanpa Injil hanya menghasilkan legalisme atau keputusasaan.
- Tetapi kesadaran akan dosa di bawah terang kasih karunia akan menghasilkan pertobatan sejati yang penuh pengharapan.
Contoh dalam penyampaian:
- Bukan: “Kalau kamu tidak taat, Tuhan akan marah dan hidupmu hancur.”
- Tetapi: “Meskipun kita sering gagal, kasih karunia Tuhan selalu cukup untuk membangkitkan dan memulihkan kita.”
“Grace doesn’t deny sin. It defeats it with love.” – Timothy Keller
Penutup: Dari Teks ke Transformasi
Kotbah yang mengubahkan bukan berasal dari ide manusia, tetapi dari Firman Allah yang disampaikan dengan kesetiaan, ketepatan, dan kejelasan. Baik kotbah eksposisi maupun topikal, keduanya harus berakar dalam teks Alkitab, dijelaskan secara kontekstual, dan diarahkan kepada Kristus sebagai pusat segala jawaban.
Kotbah yang baik bukan hanya menyampaikan isi Alkitab, tetapi mengantar jemaat dari teks menuju transformasi hidup—mengubah pola pikir, membentuk gaya hidup, dan memperkuat iman.
Karena itu, bangunlah kotbah yang:
- Setia pada teks atau topik, tidak keluar jalur atau melompat-lompat tanpa arah,
- Dikerjakan secara eksposisional, bukan berdasarkan ide pribadi,
- Dibawa kepada aplikasi yang relevan, menjawab realitas hidup jemaat masa kini,
- Padat dan tidak terlalu panjang, agar jemaat dapat menangkap inti pesan dengan jelas,
- Diperkaya dengan ilustrasi, humor, dan kutipan, namun tidak menggantikan kekuatan Firman,
- Dan yang terpenting: menunjuk kepada Kristus, sumber kasih karunia dan kuasa untuk hidup baru.
“Kotbah yang benar bukan hanya memberi tahu jemaat apa yang harus mereka lakukan, tetapi membawa mereka kepada Pribadi yang memampukan mereka untuk melakukannya—Yesus Kristus.”
Biarlah setiap kotbah kita bukan hanya memberi informasi, tetapi menjadi undangan untuk mengalami transformasi melalui Firman yang hidup.
Check list kotbah:
- Tepat secara teologis,
- Mengalir secara logis,
- Kaya secara ilustratif,
- Dalam secara spiritual, dan
- Terarah kepada Kristus.
“The goal of preaching is not to say something new, but to say the eternal truth in a way that awakens the heart.” – John Piper
Biarlah setiap kotbah yang kita sampaikan—topikal sekalipun—selalu menjadi suara yang setia kepada Kitab Suci dan berbicara nyata kepada kehidupan jemaat hari ini.
Sebuah kotbah bukan hanya tentang memberi informasi, tapi mentransformasi hidup. Tujuan akhirnya adalah:
- Jemaat melihat Kristus lebih jelas,
- Mengalami pembaruan pikiran, dan
- Hidup dalam ketaatan yang nyata.